Tentang Radikalisme Dalam Buku Agama Kelas XI

Akhir pekan lalu, dunia pendidikan Indonesia dibuat heboh oleh sebuah buku. Buku pelajaran Agama Islam. Katanya, buku tersebut memuat ajaran radikal. Saya sendiri tahu dari acara bincang bagi di sebuah televisi swasta, dan tidak begitu tahu akar masalahnya, meskipun mengikuti diskusinya.

Malamnya, saya membaca artikel di laman majalah Tempo terkait isu ini. Menurut artikel tersebut, si buku menjadi masalah karena, “di dalamnya menyebutkan orang yang tidak menyembah Allah bisa dibunuh karena kafir.” Oke lah, angguk saya dalam hati. Tempo juga memuat reaksi Mendikbud Anies Baswedan: “Saya saja sampai kaget membaca isinya”.

Menteri Anies rupanya menilai kejadian ini sebagai sebuah ketidaksengajaan. Ia menganggap ada keburu-buruan dalam penyusunan buku tersebut. “Ini contoh bila buku ditulis secara tergesa-gesa dan belum disiapkan dengan baik. Akhirnya kualitas buku yang dikompromikan. Sebanarnya itu tidak boleh,” kata Pak Menteri.

Saya pun penasaran dan memutuskan untuk membaca sendiri buku bermasalah itu. Tahu sendiri kan sekarang sudah susah menyaring informasi. Berbekal informasi dari artikel Tempo tadi, saya langsung googling dengan kata kunci “Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas XI SMA” (PAIDBPKXS),  sesuai dengan judul bukunya.

Google memberitahu saya bahwa buku yang saya cari ada di laman Buku Sekolah Elektronik milik Kemendikbud. Sayangnya, ternyata berkas buku tersebut sudah tidak ada. Mungkin segera dihapus untuk menekan persebaran. Tapi ya namanya barang gratis, apalagi tidak bisa habis, pasti ada pihak lain yang punya. Benar saja, akhirnya saya berhasil mengunduh buku PAIDBPKXS di sebuah blog.

Saya langsung menuju ke halaman 178, yang menurut Tempo adalah tempat kalimat yang bermasalah tersebut bersemayam. Ternyata ya, memang ada!

Yang boleh dan harus disembah hanyalah Allah Swt., dan orang yang menyembah selain Allah Swt. telah menjadi musyrik dan boleh dibunuh.

Lalu, apakah dengan ditemukannya kalimat di atas masalah selesai? Oh tentu tidak. Saya harus tahu mengapa kalimat tersebut sampai ada di sana. Ternyata, kalimat di atas adalah satu dari sekian poin dari buah pikiran seorang tokoh pemikir Islam modern bernama Muhammad bin Abdul Wahab. Beliau ini dianggap sebagai pendiri aliran Wahabiyah, yang memang dikenal ‘garis keras’ seperti itu. Pada intinya, akhirnya saya paham bahwa kalimat bermasalah tadi muncul karena ‘memang harus begitu’. Karena sedang membahas tokoh pemikir, bukankah wajar bila buah pikirannya disampaikan?

Apakah masalah sudah selesai? Belum juga! Bagi saya, perlu ada kajian ulang tentang materi pemikir Islam modern ini; apakah memang benar-benar perlu? Apakah anak kelas XI SMA sudah cukup dewasa untuk berhadapan dengan pemikiran yang berbeda-beda? Agama adalah sistem nilai yang menuntun pemeluknya menjalani kehidupan dengan benar. Pemahaman ilmu agama dengan salah tentu akan membuat jalan hidup seseorang jadi salah juga, bukan? Hal ini jadi penting karena 1) bagi orang tersebut, urusannya surga dan neraka, dan 2) bagi orang di luar agamanya, ini soal etika.

Tapi kalau ternyata memang perlu ya silahkan, saya tidak menentang. Bukankah menuntut ilmu, terutama ilmu agama, itu wajib? Hanya saja, karena seperti yang sudah saya sebutkan tadi, belajar agama harus dengan cara yang benar. Apakah buku Agama di sekolah cukup? Kemungkinan besar tidak, kan? Selain itu, yang namanya belajar, seseorang butuh orang lain yang lebih paham. Guru di sekolah pun mungkin belum tentu kompeten, apalagi harus mengajar sekian ratus anak yang pemahamannya pasti berbeda-beda.

Saya juga mencoba melihat masalah ini dari sisi lain, yaitu penggunaan bahasa. Menurut saya, kalimat yang bermasalah itu mungkin jadi bermasalah karena mengandung frasa ‘boleh dibunuh’. Coba bandingkan bila frasa tersebut tidak ada, sehingga kalimat akan berhenti di ‘..telah menjadi musyrik’. Jauh lebih baik kan?

Itu saja sih dari saya. Mudah-mudahan bermanfaat dan mohon maaf bila ada kekeliruan.

Iklan

Jika Ahok Lengser

Akhir-akhir ini banyak yang bicara soal Hak Angket Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) DKI Jakarta yang katanya mengusung misi untuk melengserkan Pak Ahok dari posisi gubernur. Saya tidak tinggal di Jakarta, sih, tapi karena isu ini sudah berskala nasional dan, menurut Fadli Zon dkk., namanya juga Jakarta, mungkin ada baiknya saya ikutan bicara (atau, dalam hal ini, menulis, yang sebenarnya secara teknis saya mengetik).

Katanya sih, DPRD DKI mengajukan hak angket untuk mengevaluasi kinerja Ahok yang dinilai menyalahi aturan. Di sisi lain, Ahok sedang berjuang untuk membuktikan bahwa ada pelanggaran juga yang dilakukan oleh beberapa pihak terkait anggaran daerah. Di sini, seakan ada perseteruan antara Ahok dan DPRD, macam film Hollywood: Ahok si politisi bersih melawan mafia anggaran yang termanifestasi dalam bentuk DPRD, yang main-main dengan duit rakyat lewat Badan Anggaran. Bertahun-tahun bergelimang kenikmatan mencatut hak rakyat, tiba-tiba diganggu oleh orang bener (dari luar daerah pula). Siapa yang tidak ingin orang itu jatuh?

Bagaimanapun, perseteruan ini mungkin ada, tapi mungkin juga tidak. Hanya saja, sebagai penggemar film, saya tentu berharap Ahok vs DPRD adalah situasi yang riil. Saya ingin Ahok dibantai dari segala lini, menderita batin hingga nyaris mati, hanya untuk kemudian membalikkan keadaan secara elegan. Jadi, jika semua ini benar terjadi, saya ingin Ahok menang.

Tapi bagaimana jika Ahok kalah, dan kemudian lengser?

Ah, itu mudah saja. Saya ingin bapak saya naik menggantikan Ahok. Minimal, saya tahu reaksi keduanya akan sama persis bila melihat ada orang yang seenaknya di jalan raya: “Dikira jalan punya nenek moyangnya, apa?!”

Istilah Bule Punya Indonesia

Akhir-akhir ini saya sering mendengar istilah lembaga super body. Istilah ini merujuk pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Lalu saya bertanya-tanya, apa itu lembaga super body?

Secara pribadi, saya kurang percaya dengan referensi di internet yang berbahasa Indonesia, apalagi jika istilah yang saya cari menggunakan bahasa Inggris. Jadilah saya mencari super body di Google. Hasilnya mengejutkan karena yang keluar adalah gambar lelaki-lelaki bertubuh atletis. Saya kecewa. Ah, mungkin kurang spesifik, pikir saya. Jadi saya tambahkan lah institution (lembaga) di belakang super body. Hasilnya? Saya makin kecewa.

Ternyata tidak ada entri berbahasa Inggris yang menjelaskan apa itu super body institution di halaman pertama Google. Yang ada malah ada artikel berbahasa Indonesia. Kalaupun berbahasa Inggris, yanulis tetaplah orang Indonesia. Bukannya saya meragukan kemampuan ahli lokal, tapi ini kan istilah bule, masak tidak ada satupun bule yang memberi penjelasan?

Agaknya, lembaga super body adalah istilah yang dibuat oleh orang Indonesia (atau setidaknya bukan oleh bule). Hal ini mirip dengan istilah post-power syndrome. Tidak ada satupun artikel ilmiah berbahasa Inggris tentang sindroma itu (ini lebih parah sih karena sudah masuk ranah ilmiah). Sebenarnya ada satu istilah lagi yang seperti ini, namun saya lupa.

Mengapa kita harus berlindung di balik istilah bule, sih? Apakah ini bentuk ketidakpercayaan diri? Apakah di negara lain yang tidak berbahasa Inggris juga melakukan hal ini? Apakah Kotaro akan berhasil mengalahkan monster kepiting? Tunggu episode berikutnya di stasiun-stasiun televisi kesayangan Anda.

Yang Saya Tidak Suka dari Isu Hukum

Saya bukan lulusan fakultas hukum dan secara umum tidak memiliki pengetahuan yang adekuat tentang hukum untuk memiliki opini (terutama yang keras) tentang dunia hukum.

369842_620

Tapi saya hidup di negara demokrasi, jadi seharusnya saya bisa bicara sesukanya, sebatas pengetahuan saya.

Oke, jadi begini. Saya baru saja dengar berita terbaru dari perkembangan kasus Komjen Budi Gunawan, dimana ada seorang saksi ahli yang menyatakan bahwa keputusan KPK untuk menetapkan sang Komjen sebagai tersangka korupsi tidak sah. Alasannya? KPK kurang orang. Menurut Romli Atmasasmita, si saksi ahli itu, putusan KPK tidak bisa diterima secara hukum karena dibuat oleh empat orang. Padahal, menurut undang-undang, KPK harus dipimpin oleh lima orang.

Inilah yang tidak saya suka dari hukum. Entah bagaimana, menyangkal kesahihan dari sesuatu di pengadilan bisa dilakukan dengan memunculkan flaw (entah apa bahasa Indonesianya, mungkin ‘celah’) di domain lain yang tidak berhubungan. Terkesan memaksa dan kekanak-kanakan bahkan.

Saya jadi ingat film Liar Liar yang dibintangi Jim Carrey. Dia berperan sebagai seorang pengacara yang akhirnya bisa memenangkan seorang istri dalam sidang hak asuh anak. Kala itu, klien Carrey sudah di ujung tanduk karena argumen suaminya sangat kuat bahwa istrinya tidak layak mengasuh anak (mengajak pria lain ‘bermain’ ke rumahnya, dan sebagainya). Meski begitu, di menit akhir, ia menemukan bahwa ternyata sang istri dulu menikah saat masih di bawah umur. Hal ini membuatnya menjadi pihak yang dirugikan, dan akhirnya menang.

Memang, apa yang dikatakan Romli sah dan benar. Mungkin putusan KPK tidak sah apabila hanya dibuat oleh empat orang. Tapi apakah hal ini mengurangi kekuatan bukti yang dimiliki KPK (jika ada dan kuat)? Bukti tentu berposisi lebih kuat dibanding alasan ‘komikal’ tentang kekurangan orang. Apakah tidak bisa didahulukan? Karena nantinya, jika ternyata bukti yang diajukan KPK tidak cukup, berapapun pembuat keputusannya, Budi Gunawan akan bebas ‘kan?

Saya tidak memihak KPK atau Budi Gunawan atau Inul Daratista. Saya memihak kebenaran. Dan ingat, saya bukan anak hukum!

Pemimpin dan Ide

Sebagus apapun idenya, selama hanya bagus untuk peningkatan kualitas hidup sendiri, haruslah disimpan untuk dirinya sendiri. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan, terutama bagi seorang pemimpin. Dengan kata lain, seorang pemimpin tidak bisa mengimplementasikan idenya bila ide tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan orang-orang yang dipimpinnya, yang berarti, ia harus mengetahui apa yang dibutuhkan orang-orang yang dipimpinnya untuk bisa meningkatkan kualitas hidup mereka. Meski begitu, ide yang ‘eksklusif’ ini bukan berarti tidak boleh dibagikan. Selama pemilik ide merasa apa yang digagasnya bermanfaat, tidak ada salahnya (bahkan cenderung wajib) diberitahukan kepada orang lain.

Tantangan Ramadhan, Hari 08: Sendok Teh

Tantangan Ramadhan adalah.. Ya, sebenarnya sih kalian pasti tahu tentang model tulisan blog seperti ini. Selama bulan puasa ini saya akan menulis satu entri setiap harinya. Jelas ya.

***

Tahu sendok teh?

Mustahil manusia yang hidup di Indonesia tidak pernah mendengar istilah tersebut. Frasa ini terdiri dari dua kata: sendok dan teh. Sendok dan teh memiliki makna yang berbeda. Jika tidak percaya, silakan cek di kamus.

Kemungkinan besar, orang-orang Indonesia yang mengetahui tentang sendok teh mendapatkan pengetahuannya dari buku atau acara televisi tentang masak-memasak. Ketika si pembawa acara menyebutkan “tiga belas sendok teh garam”, maka kita akan terbayang sesosok sendok kecil berwarna perak. Itulah sendok untuk mengaduk/menyeruput teh: sendok teh. Lebih jauh, kita menganalisis bahwa sendok teh mungkin digunakan karena ukurannya yang ringkas, sehingga akan lebih cocok untuk menuang garam.

Tunggu dulu.

Istilah sendok teh yang digunakan di dapur itu sebenarnya adalah satuan ukur. Ya, seperti meter, liter, dan newton. Satu sendok teh sama dengan 4.92892 mililiter. Ada versi lain yang menyebutkan 5.91939 mililiter,

Istilah sendok teh berasal dari bahasa Inggris, yaitu teaspoon. Gabungan dari dua kata, tea dan spoon. Tidak, saya tidak sedang bercanda. Karena frasa ini begitu enak untuk dimaknai secara harfiah (semua komponen mempunyai paralelnya masing-masing; tea = teh, spoon = sendok), maka penyusun-penyusun kamus bahasa Indonesia mengartikannya sebagai sendok teh. Sampai di sini, tidak ada yang keliru sih.

Kekeliruan terjadi di tahap selanjutnya, yaitu pemakaian. Seperti yang kita tahu, sendok teh mengandung kata sendok, yang kaitannya erat sekali dengan makanan, yang erat kaitannya dengan dapur. Akan sangat convenient (apa sih bahasa Indonesianya? Nyaman? Kok kurang ya) bagi otak kita untuk menyamaratakan makna sendok teh (benda) dan sendok teh (satuan ukur). Bisa juga murni tidak tahu sih, kayak saya.

Berhubung ini adalah entri Tantangan Ramadhan kedelapan dan tulisan ke-32 secara keseluruhan, silakan mampir ke halaman Facebook ini. Ya, mumpung namanya sendok teh juga. Jangan lupa di-like.

Tantangan Ramadhan, Hari 06: Kekuatan Super

Tantangan Ramadhan adalah.. Ya, sebenarnya sih kalian pasti tahu tentang model tulisan blog seperti ini. Selama bulan puasa ini saya akan menulis satu entri setiap harinya. Jelas ya.

***

(Hampir) semua orang pernah berkhayal atau ditanya tentang pilihan kekuatan super mereka. Dalam konteks ini, kemampuan menghilang (bahasa Inggris-nya: invisibility) seringkali jadi jawaban. Alasan yang standar: bisa buat ngintip atau apalah yang jorok-jorok. Terbang juga banyak yang mau.

Sebagai orang yang belajar psikologi, saya lebih suka punya kekuatan yang ada hubungannya sama membaca pikiran (mind-reading). Di dunia perkomikan, ada karakter yang bernama Charles Xavier atau lebih beken dikenal sebagai X-Men. Meskipun saya adalah fans berat DC Comics, saya suka beberapa karakter Marvel seperti Wolverine, Deadpool, sama Spider Man. Atau Spiderman. Atau mungkin Spider-man, atau Spider-Man.

Terkait dengan kekuatan mind-reading, saya suka aspek memasukkan pikiran (thought) ke pikiran (mind) orang lain. Ini keren banget. Bayangkan, lawan sedang dalam keadaan siap menghajar kita, eh tiba-tiba dia kepikiran neneknya sedang joget. Atau lebih heboh lagi, kita suruh dia masuk jurang. Atau lebih luar biasanya lagi, kita ganti pikiran agresif dia jadi pikiran damai. Banyak aplikasi lain yang lebih asik. Koruptor misalnya.

Kita masukin aja pikiran jorok setiap dia mau nyomot duit negara. Seenggaknya dosanya jadi cuma nonton film gituan.