Yang Sedang Dikerjakan

Entah mengapa berkeinginan untuk menulis.

Beberapa hari yang lalu saya membeli Post-It yang bentuknya persegi panjang kecil. Saya ingin membuat semacam reminder yang bisa ditempel di laptop. Sejauh ini sudah ada tujuh persegi panjang kecil-kecil yang bertengger di depan muka saya setiap kali membuka laptop.

Apa saja yang saya kerjakan?

Pertama dan yang paling utama adalah LPDP, dong. Tenggat waktu pengumpulan berkas adalah 27 April mendatang. Sepertinya saya harus memundurkan tanggalnya jadi 20, agar tidak ada ruang untuk bermalas-malas. Sampai saat ini saya masih dalam proses menulis ulang esai. Saya juga sedang banyak membaca literatur terkait bidang studi saya nanti. Alasannya sederhana sih, agar saya benar-benar tahu apa yang harus saya lakukan setelah kuliah nanti. Saya juga sudah merencanakan untuk menulis tentang rencana tersebut di blog ini.

Oya, simak juga tulisan saya untuk mempersiapkan lamaran LPDP kedua.

Lalu ada Jakarta Urban Challenge. Buat yang belum tahu, Jakarta Urban Challenge adalah acara yang diadakan oleh sebuah organisasi internasional bernama New Cities Foundation. Saya juga kurang paham sih apa yang dilakukan organisasi tersebut, tapi rencananya tahun ini akan ada seminar besar tentang perkotaan yang bertempat di Jakarta. Ada Pak Ahok, lho.

Nah, Urban Challenge itu sendiri adalah semacam sayembara. Intinya, mereka menantang penduduk Indonesia, khususnya Jakarta, untuk memberi ide-ide terbaik dalam menyelesaikan masalah transportasi di ibukota tercinta ini. Saya tertarik untuk ikut sayembara ini, karena salah satu dimensi yang diminta solusinya adalah safety and accessibility, yang bagi saya psikologi banget. Tenggatnya tiga hari setelah LPDP, yaitu 30 April.

Selanjutnya ada proyek riset dengan University of Warwick. HA?! Ya, saya bukan asal ketik kok. Jadi, dulu sekali, di tahun 2013, tiga orang dosen saya berangkat ke Inggris untuk mengunjungi beberapa universitas di sana, salah satunya adalah Warwick. Mereka membawa misi kerjasama riset, dan Warwick adalah kampus yang paling antusias menyambut ide tersebut.

Ingat Profesor Nick Chater? Beliau adalah ‘perwakilan’ dari Warwick yang antusias itu. Singkat cerita, Prof. Chater dan seorang dosen saya berencana untuk melakukan riset. Sayangnya, karena keduanya sama-sama sibuk, rencana tersebut terbengkalai.

Fast forward ke beberapa hari yang lalu, saya ditawarkan untuk terlibat dalam penelitian ini. Buat saya, ini kesempatan yang bagus untuk belajar dan kembali mendekatkan diri dengan dunia riset. Di sisi lain, dengan terlibat dalam riset berskala internasional seperti ini, saya bisa memoles CV. Hehehe.

Saya belum tahu banyak soal rencana riset ini, apalagi tenggat-tenggatnya. Tapi saya sudah mulai membaca salah satu artikel jurnal yang akan dirujuk nantinya.

Lanjut. Saya tidak ingat sudah pernah menulis ini atau belum, tapi sepertinya sih belum. Salah satu persyaratan yang saya penuhi untuk memenuhi conditional offer dari Warwick (iya, saya sudah daftar dulu sekali) adalah memperbaiki nilai IELTS. Waktu saya mendaftar, sebenarnya skor overall-nya sudah mencukupi. Sayang, ada satu subskor yang terlalu rendah untuk jurusan saya. Untuk itu, tanggal 14 Maret lalu saya ikut iELTS lagi, dan alhamdulillah sekarang sudah memenuhi syarat. Ya, Post-It berikutnya adalah soal mengirim berkas-berkas yang diminta Warwick untuk mendapatkan unconditional offer.

Masih dari Warwick, dua hari yang lalu saya mendapat email dari Warwick International Office. Isinya adalah pengumuman bahwa International Office akan mengadakan sesi tanya jawab antara calon mahasiswa dan mahasiswa. Standar sih, masalahnya adalah mereka akan menghubungi calon mahasiswanya lewat telepon! Untungnya saya bisa memilih untuk tidak dihubungi lewat telepon, dan memilih live chat. Seperti yang kita semua tahu, salah satu kekuatan terbesar chatting adalah kita punya waktu yang banyak untuk berpikir, dan bisa merevisi apa yang ingin kita ucapkan. Keunggulan yang amat penting bagi orang seperti saya. Sesi live chat akan dibuka dari tanggal 13 hingga 18 April.

Dan terakhir, saya sudah memplot sebuah cerpen untuk dipublikasikan dalam waktu (yang relatif) dekat.

Iklan

Tantangan Ramadhan, Hari 06: Kekuatan Super

Tantangan Ramadhan adalah.. Ya, sebenarnya sih kalian pasti tahu tentang model tulisan blog seperti ini. Selama bulan puasa ini saya akan menulis satu entri setiap harinya. Jelas ya.

***

(Hampir) semua orang pernah berkhayal atau ditanya tentang pilihan kekuatan super mereka. Dalam konteks ini, kemampuan menghilang (bahasa Inggris-nya: invisibility) seringkali jadi jawaban. Alasan yang standar: bisa buat ngintip atau apalah yang jorok-jorok. Terbang juga banyak yang mau.

Sebagai orang yang belajar psikologi, saya lebih suka punya kekuatan yang ada hubungannya sama membaca pikiran (mind-reading). Di dunia perkomikan, ada karakter yang bernama Charles Xavier atau lebih beken dikenal sebagai X-Men. Meskipun saya adalah fans berat DC Comics, saya suka beberapa karakter Marvel seperti Wolverine, Deadpool, sama Spider Man. Atau Spiderman. Atau mungkin Spider-man, atau Spider-Man.

Terkait dengan kekuatan mind-reading, saya suka aspek memasukkan pikiran (thought) ke pikiran (mind) orang lain. Ini keren banget. Bayangkan, lawan sedang dalam keadaan siap menghajar kita, eh tiba-tiba dia kepikiran neneknya sedang joget. Atau lebih heboh lagi, kita suruh dia masuk jurang. Atau lebih luar biasanya lagi, kita ganti pikiran agresif dia jadi pikiran damai. Banyak aplikasi lain yang lebih asik. Koruptor misalnya.

Kita masukin aja pikiran jorok setiap dia mau nyomot duit negara. Seenggaknya dosanya jadi cuma nonton film gituan.

Tantangan Ramadhan, Hari 04: Postingan 15 Menit

Sesuai judul, postingan ini dibuat dalam waktu kurang lebih 15 menit. Begitu ingat, saya langsung mengunduh aplikasi WordPress ke henpon saya. Abis ini akan saya hapus lagi sih palingan.

Omong-omong, mengapa saya hanya punya 15 menit? Kalau kalian perhatikan kapan tulisan ini dipostingkan, kalian akan paham bahwa itulah sisa waktu yang saya miliki hari ini. Sejak pagi saya sibuk mengerjakan kerjaan-kerjaan yang berkaitan dengan sekolah magister.

Iya, saya punya rencana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih serius.

Saya ingin sekali bisa berkuliah di University of Warwick. Itu adanya di United Kingdom sana (dimana orang kita suka salah kaprah bilang “Inggris”). Di Warwick saya mau ambil program yang berjudul MSc. in Behavioural and Economics Science. Kalian tidak salah baca: behavioural, dengan huruf “U”. Itu ejaan british.

Saya mau ambil jurusan itu karena saya minat pada kajian psikologi yang nyerempet-nyerempet sama ekonomi. Kalau mau tahu lebih lanjut, silakan googling dengan kata kunci “behavioral economics”. Kali ini tanpa “U” juga tidak apa-apa.

Segitu dulu deh untuk hari keempat ini. Semoga puasanya pada lancar. Semoga bisa khatam Quran juga. Semoga saya diterima Warwick.

Tantangan Ramadhan, Hari 01: Masa Depan

Tantangan Ramadhan adalah.. Ya, sebenarnya sih kalian pasti tahu tentang model tulisan blog seperti ini. Selama bulan puasa ini saya akan menulis satu entri setiap harinya. Jelas ya.

Ehem.

Sudah lama saya tidak melakukan dua hal. Pertama, saya tidak menulis apa-apa di blog ini sejak lebih dari satu bulan lalu. Kelihatannya sebentar, tapi jarak antara dua postingan terakhir adalah dua bulan. Tidak ada seseorang yang mengaku blogger menulis dengan jarak sejauh itu. Apa? Ada? Oh, ya sudah.

Kedua, saya sudah lama tidak menulis tentang diri saya sendiri. Maksudnya adalah, akhir-akhir ini (jika masih bisa disebut begitu) saya banyak membuat cerita pendek dan sejenisnya. Tidak ada tulisan “meta” yang menceritakan tentang si pencerita. Kalaupun ada, terakhir saya membuatnya akhir bulan Januari lalu, saat seri “Menulis Buku” dibuat.

Untuk itu, menyambut bulan suci Ramadhan ini, saya ingin kembali menulis dan akan berfokus pada tulisan “meta”.

Dan meminta maaf.

Apa yang saya suka dari bulan Ramadhan? Ta’jil-nya? Bukan. Azan magrib? Iya sih, tapi bukan juga. Yang selalu saya tunggu di bulan Ramadhan adalah pagi hari ketika saya baru bangun setelah salat subuh. Alasannya, semua orang di rumah pasti masih tidur. Saya akan sendirian selama beberapa jam. Orang yang hobi menulis pasti mengerti kenapa saya suka saat-saat seperti ini.

Kalau sedang sendiri seperti ini, saya merasa pikiran saya menjadi lebih jernih. Nah, karena itu, saya memanfaatkan kesendirian ini untuk memikirkan hal-hal yang tidak bisa benar-benar diproses karena adanya orang lain. Kalau kalian seperti saya, suka nonton serial Sherlock di komputer (iya, bajakan), tokoh Sherlock Holmes akan marah ketika ada orang yang berpikir saat dia sedang berpikir. Kira-kira begitulah yang saya rasakan.

Sherlock: “Shut up!”
Lestrade: “I didn’t say anything”
Sherlock: “You were thinking. It’s annoying”

“Sherlock” E01S01 – A Study In Pink

Sherlock: Shut up.
Lestrade: I didn’t say anything.
Sherlock: You were thinking. It’s annoying. – See more at: http://www.planetclaire.org/quotes/sherlock/series-one/a-study-in-pink/#sthash.F4uYQjQt.dpuf
Sherlock: Shut up.
Lestrade: I didn’t say anything.
Sherlock: You were thinking. It’s annoying. – See more at: http://www.planetclaire.org/quotes/sherlock/series-one/a-study-in-pink/#sthash.F4uYQjQt.dpuf
Sherlock: Shut up.
Lestrade: I didn’t say anything.
Sherlock: You were thinking. It’s annoying. – See more at: http://www.planetclaire.org/quotes/sherlock/series-one/a-study-in-pink/#sthash.F4uYQjQt.dpuf

Apa yang bisa saya proses dalam keadaan sendirian begini? Banyak. Salah satunya, adalah tentang perbuatan. Tentang apa-apa yang sudah atau belum saya perbuat. Dan karena sekarang sedang musimnya Piala Dunia, saya kira asyik juga kalau tulisannya dikaitkan ke situ.

Dulu, saat jamannya mengerjakan skripsi, saya pernah berpikir tentang apa yang sudah saya perbuat dalam hidup ini. Apa karya yang bisa saya sumbang dan banggakan? Saya berusia dua puluh satu tahun waktu itu, dan belum merasa punya apa-apa untuk diberikan kepada dunia ini. Mungkin tidak wajar pikiran seperti itu muncul, karena pada umumnya orang menganggap usia 21 sebagai masih sangat muda. Tidak dengan saya; orang-orang di sekitar saya adalah orang hebat. Ada yang punya bisnis sendiri, ada yang punya band, jadi pesulap profesional, jadi Pengajar Muda, public reading di seminar ilmiah, dan lain sebagainya. Jadi, standar saya berbeda.

Kalau dilihat dengan lingkup yang lebih luas lagi, ada nama-nama seperti Dian Pelangi (desainer), Muhammad Iman Usman (aktivis), Qory Sandioriva (Puteri Indonesia 2009) yang semuanya dikenal secara nasional. Dalam lingkup yang lebih luas lagi, ada aktris Evanna Lynch (Luna Lovegood di serial film Harry Potter) dan Craig Roberts (pemeran Oliver Tate di film Submarine. Coba nonton); musisi Wolfgang Van Halen (pemain bas di band Van Halen) dan Atsuko Maeda (mantan anggota AKB48); dan olahragawan Brandon Knight (bola basket) serta petenis Melanie Oudin.

Kategori terakhir ini yang membuat saya sakit perut. Sejak SD saya selalu ingin menjadi pemain sepakbola. Sekarang, Piala Dunia 2014 bertabur pemain-pemain seperti Oscar (Brasil), Lorenzo Insigne (Italia), Xherdan Shaqiri (Swiss), Jordan Ayew (Ghana), Eden Hazard (Belgia), Aleksandr Kokorin (Rusia), dan James Rodriguez (Kolombia).

Melanjutkan pemikiran saya saat mengerjakan skripsi dulu, saya berkata pada seorang teman yang juga hobi bola, “Bro, orang seumuran kita udah banyak yang hebat-hebat. Liat tuh James Rodriguez. Dia lagi diincar MU loh. Gua udah ngapain ya?”

Sekarang lihat apa yang sudah diperbuat si James: memuncaki daftar pencetak gol terbanyak (lima gol), beberapa jam lalu. Saat ini dia bisa dibilang lebih hebat dari Pemain Terbaik Dunia Lionel Messi.

James Rodriguezsumber gambar: my-sepakbola.com

 

Seperti saya, dan nama-nama yang saya sebut sebelumnya, James lahir pada tahun 1991. Usianya sama dengan saya, tapi karyanya?