Jalan Bareng Jarvis di Jakartokyo

Jadi tadi sehabis subuh saya tidur lagi.

Terus mimpinya ternyata, meskipun cukup acak, tapi sangat keren. Saya ketemu dan jalan-jalan bareng Jarvis Cocker di Tokyo.

Mimpi dimulai saat saya melihat Jarvis dari kejauhan. Dia mengenakan kacamata lensa merah, dengan gaya jalan yang berantakan. Sepertinya mabuk.

jarvis-460x276

Saya tidak mau mengusiknya yang mungkin sedang liburan, jadi dari seberang jalan saja saya beranikan diri untuk menyapanya: “Mister Cocker, I love you!!”

MISTER COCKER I LOVE YOU!!!” saya teriak kedua kalinya.

JARVIS!!!” tiga. Akhirnya dia menoleh.

Saya tidak bisa menahan diri. Saya menyeberang jalan. Dia terlihat senang saya hampiri. Sepertinya.

Saya lupa apa kata-kata pertama yang saya ucapkan, yang jelas di saat itu juga saya memaksakan diri untuk melupakan agenda saya di Tokyo saat itu untuk jalan bareng Jarvis. Yang jelas saya saat itu senang sekali. Saya merangkul pundaknya, yang ternyata tidak lebih tinggi dari saya. Bahkan di mimpi saya menyadari ini.

Saya juga menahan diri untuk tidak mengajak swafoto dulu. Saya tahu sebagian selebriti lebih suka berinteraksi dengan penggemar yang menganggap mereka manusia.

Tapi Jarvis, saat itu, berbeda. Benar dugaan saya: dia mabuk berat.

Saya berusaha untuk mengajaknya bicara, dengan harapan ia tetap fokus dan saya mendapatkan pengalaman yang maksimal. Saya bertanya dalam bahasa Inggris, “apa yang membuat Anda tertarik mendatangi Indonesia; mendatangi negara saya?”

Nah lho. Jadi Tokyo ini ada di mana?

Saya tidak ingat Jarvis menjawab apa. Bahwa dia menjawab atau tidak saja saya tidak tahu. Tapi pembicaraan berlanjut, dan saya sadar saya banyak bertanya. Jarvis sepertinya menyadari juga, dan bilang bahwa bahasa Inggris saya terlalu cepat diucapkan. Tidak ada yang akan mengerti.

Saya berusaha memeperlambat bicara saya, dan ia masih berkomentar seperti tadi. Akhirnya saya panas. “Lah cara elu ngomong juga nggak banyak yang ngerti!” bentak saya, seakan membeberkan fakta, dalam bahasa Inggris.

Tiba-tiba saya mendapat telpon dari istri saya. Dia sedang makan steak (atau shabu-shabu?) di sebuah rumah makan besar. Saya tidak ingat nama lengkapnya, namun sepertinya mengandung kata metal. Istri saya bilang, saya sudah ditunggu. Ah, mungkin itulah agenda asli saya di sini.

Tapi di tengah pembicaraan, Jarvis melakukan sesuatu yang luar biasa.

Ia menyeberang jalan dengan cepat. Mendekati sebuah gerobak ramen, dan mengambil—mencuri—tempura di atas ramen yang sudah jadi (yang sebenarnya lebih terlihat seperti makanan contoh). Saya, masih sedang sibuk di telepon, langsung setengah berteriak. Saya lupa apa yang saya teriakkan, sih.

Saya memburu ke arah gerobak ramen. Saya tarik Jarvis menjauhi gerobak itu. Saya langsung berkata pada pedagangnya bahwa saya akan ganti.

“Lima belas ribu,” kata pedagang ramen pada saya, dengan tampang kesal sekaligus ketakutan. Saya merogoh kocek. Wajah saya pucat. Dompet saya tidak ada. Padahal saya ingat ada lima puluh ribuan di situ.

Jarvis masih asyik makan tempura, sepertinya.

Saya mengecek jaket yang tadi saya lepas. Alhamdulillah ada dompetnya. Saya ambil lima puluh ribu, lalu saya berkan pada si pedagang. Ia pun menyerahkan kembalian.

Saya menunggu. Saya menunggu, lalu bilang, “Oh iya, gorengannya itu diganti ya. Saya kira saya dapat lagi.”

Bodoh nggak ketulungan.

Saya dan Jarvis lalu melanjutkan perjalanan. Saya mengajak Jarvis makan di restoran bernama metal itu, dan ia terlihat sangat antusias. Mungkin karena ia musisi. Entahlah.

Tapi saya memberi syarat padanya: ia harus bisa menjaga perilakunya. Ia harus menjadi orang yang, dan ini kutipan langsung dari diri sendiri, “capable of self regulation.”

Sekarang orang yang melihat kami akan melihat kami seperti bocah dan pengasuhnya. Lalu Jarvis membuka celananya (untungnya masih ada celana lagi di dalam). Astaga. Saya marahi. Ia pakai lagi itu celana.

Lalu entah bagaimana, adegan pindah dan kami sedang dalam posisi habis mandi. Hanya mengenakan handuk, kami menyusuri rumah makan metal dengan tangga. Sekarang, dari dalam, rumah makan ini terlihat seperti rumah nenek saya.

Ketika menghampiri sebuah pintu, Jarvis, yang sudah sober setelah mandi, bertanya, “Yakin ini ruangannya?”

“Iya lah, pintunya kamar nenek gua juga begitu.”

Iklan

Mengurus STNK Hilang: Sebuah Curhat

Saya mau cerita sedikit. Kemarin (26/3), saya mengurus STNK motor yang hilang di Samsat Jakarta Selatan. Tidak, STNK saya tidak hilang di Samsat. Ya paham lah ya. Tapi, karena saya sedang malas menulis tapi tetap ingin cerita, saya buat ceritanya dalam bentuk poin saja. Ini dia.

1. Saya berangkat lumayan pagi, jam 8 lewat.

2. Selain STNK hilang, saya juga mau urus mutasi STNK tersebut, dari Jaksel ke Tangerang Selatan.

3. Ternyata Samsat Jaksel satu komplek dengan Polda Metro Jaya. Setidaknya begitulah pemahaman saya.

4. Parkiran motornya juga luas.

5. Saya masuk ke gedung Samsat dan bingung. Inilah potret buruknya pelayanan masyarakat di Indonesia. Masyarakat yang belum pernah sekalipun mengurus surat di Samsat ini harus bertanya ke satpam (atau bagian informasi) untuk mengetahui harus apa di mana. Tidak ada informasi yang jelas tentang fungsi masing-masing loket yang ada. Semua seadanya.

6. Saya diputar-putar. Menurut satpam, untuk mengurus mutasi saya harus ke gedung biru yang saya lupa namanya. Oke saya ke sana. Sesampainya di sana, saya diberitahu oleh polisi yang berjaga bahwa urus mutasi bisa meskipun STNK hilang. Saya disuruh ke lantai dua. Di lantai dua, ternyata saya harus membuat berita acara, dan itu dilakukan di gedung Samsat. Petugas juga tidak ramah.

7. Kembali ke gedung Samsat, saya bertanya pada satpam lagi tempat membuat berita acara. Ternyata ada di loket pojok. Oke saya ke sana. Sesampainya di sana, saya malah disuruh ke loket ujung satunya lagi untuk apa saya lupa. Sesampainya di sana, ternyata saya harus lapor pajak atau apa saya lupa, di loket Bank DKI di tengah. Setelah itu saya ke basemen untuk mengurus sesuatu lagi, baru kembali ke loket pojok (kedua), lalu kembali ke loket berita acara.

8. Di loket berita acara, ternyata petugas minta fotokopi kartu keluarga karena STNK yang diurus adalah atas nama ayah saya. Dua jam sia-sia.

9. Akhirnya saya memutuskan pulang saja. Di parkiran motor, saya menyadari bahwa helm saya sudah tidak di tempatnya.

10. Saya bertanya pada penjaga penitipan helm, nihil. Saya bertanya pada polisi jaga, dan ditawarkan helm bekas yang ternyata juga tidak ada. Bayangkan, helm saya hilang di kantor polisi.

11. Saya pun terpaksa ke Pasar Bendungan Hilir karena kata salah satu polisi ada yang jual helm di sana. Sampai di sana, saya bertanya pada tukang duplikat kunci. Katanya ada yang jual helm di dekat Mess Polwan. Harus naik bemo. Ya sudah saya nurut karena sudah lelah sekali. Terbeli lah helm pinggir jalan seharga 170 ribu. Saya kembali ke Samsat naik TransJakarta dan pulang.

Sudah ya itu saja. Saya benar-benar iri nih dengan sistem informasi public service di Inggris Raya.

Soal LPDP

Kemarin, 10 Maret 2015, adalah hari pengumuman hasil seleksi beasiswa LPDP gelombang kedua. Singkatnya, saya tidak lolos seleksi di periode ini. Tapi saya tidak berpikir untuk menyerah karena menyerah adalah perbuatan pelaku calon narapidana (kalau belum menyerahkan diri kan namanya buron. Lah, jadi?!). Di kesempatan ini, saya ingin melakukan refleksi. Yah, siapa tahu berguna buat teman-teman yang berencana melamar LPDP juga.

Oh ya, perlu diingat bahwa sekarang LPDP membolehkan peserta yang keberhasilannya tertunda untuk langsung melamar lagi (tidak perlu menunggu sampai enam bulan). Syaratnya, lamaran kedua itu adalah kesempatan terakhir yang bisa diberikan LPDP. Sepertinya sih karena makin ke sini, beasiswa LPDP jadi semakin laris.

Seleksi Administrasi

Lanjut. Oke, refleksi. Selama proses pelamaran beasiswa, saya sudah menjalani dua tahap seleksi, yaitu seleksi administrasi dan seleksi wawancara. Seleksi administrasi bisa saya lewati dengan nyaris sempurna. Mengapa nyaris? Karena ternyata masih ada dokumen yang salah saat saya menyerahkannya ke panitia. Dokumen itu adalah surat pernyataan (yang ada materainya itu lho). Saya seharusnya menulis University of Warwick di kolom universitas, bukan Universitas Indonesia. Yah, mana saya tahu kalau kolom itu harus diisi dengan universitas tujuan. Tapi karena kesalahannya dianggap kecil (dan ternyata yang melakukannya juga lumayan banyak), saya bisa menggantinya.

Seleksi Wawancara: LGD

Selesai masalah administrasi, di hari yang sama, saya dijadwalkan untuk mengikuti subtahap seleksi wawancara: leaderless group discussion atau biasa disebut sebagai LGD. Pengalaman saya kurang baik sih di tahap ini, karena sepanjang observasi saya, hampir semua kelompok LGD sudah kumpul dan mengobrol. Artinya, mereka sudah cukup saling kenal. Saya? Saya baru bertemu separuh anggota kelompok kira-kira 15 menit sebelum masuk ruangan. Salah saya juga sih tidak aktif mencari (tapi sebelumnya saya sudah menghubungi salah satu teman kelompok melalui Facebook, namun tidak berbalas).

Tidak lekatnya hubungan antaranggota kelompok seakan ‘menghukum’ kami di ruang diskusi. Kami jadi tidak bisa menentukan mau seperti apa diskusi berjalan. Semua orang seakan berdiskusi dengan orang yang sama sekali asing (memang sih), padahal di situ kami seharusnya berperan sebagai kumpulan orang yang lebih saling kenal.

Jadi, sampailah kita pada EVALUASI PERTAMA: sebisa mungkin, agresiflah menemukan teman sekelompok diskusi. Bangun hubungan dengan saling berkenalan dan berdiskusi. Atau sekedar mengobrol. Ya pokoknya kenalan lah.

Topik yang dibahas adalah soal pendidikan. Dari pengalaman saya membaca blog orang lain, sepertinya hanya ada dua topik yang dilemparkan oleh LPDP, yaitu pendidikan dan Minerba. Sepertinya, lho. Dan sepertinya artikel yang dibahas dicatut dari Kompas. Tapi, lagi-lagi, sepertinya lho, karena saya tidak begitu ingat. Di sinilah kesalahan saya yang berikutnya: tidak membaca soal pendidikan atau Minerba, dan tidak baca koran Kompas. Saya lebih banyak membaca berita lewat portal berita di Internet, dan hanya mengikuti perkembangan berita yang sedang tren (waktu itu soal Budi Gunawan).

EVALUASI KEDUA: baca koran Kompas (atau koran lain yang populer dan relatif terpercaya). Ya, itu saja, karena belum tentu topik yang keluar adalah pendidikan atau Minerba. Tapi tidak ada salahnya juga memberikan porsi lebih pada topik itu.

Di dalam ruangan, kami diminta untuk duduk melingkari meja (persegi), membentuk huruf ‘U’ yang ujungnya tidak melengkung, dengan bagian yang terbuka menghadap ke arah barat. Posisi duduk ditentukan dengan panggilan. Maksudnya, nama yang dipanggil pertama diminta duduk di kursi pertama (di ujung kanan huruf ‘U’), begitu seterusnya hingga nama terakhir yang duduk di ujung kiri ‘U’.

Saya sendiri kebagian duduk di kursi ketiga dari awal. Kami mendapat paket diskusi berupa artikel dan kertas kosong. Oh ya, bawa pulpen sendiri.

Setelah diminta membaca artikel selama lima menit, kami dipersilahkan untuk berdiskusi. Oh ya, ada dua orang LPDP yang memonitor jalannya diskusi. Bagi orang seperti saya, berada dalam pengawasan yang live dan konstan seperti ini membuat saya cemas (bakat maling sepertinya). Maaf. Oke, jadi ternyata, anggota kelompok yang duduk di kursi nomor satu memutuskan cara berjalannya diskusi dengan cukup brilian: semua mendapat giliran berbicara satu-persatu, dimulai dari dia. Brilian.

Ada dua alasan. Brilian karena cara ini memunculkan keadilan bagi setiap anggota; semua dapat kesempatan bicara. Brilian, karena itu artinya saya dapat giliran bicara ketiga. Ingat kecemasan yang saya alami tadi? Oh, efeknya sungguh luar biasa karena saya tidak bisa fokus membaca artikel. Sekali lagi, brilian.

Dalam diskusi ini, kami diminta untuk memberikan solusi atas sebuah masalah di dunia pendidikan pada menteri pendidikan, dan boleh menentukan akan bentuk kelompoknya: apakah heterogen (terdiri dari beberapa latar belakang pekerjaan) atau homogen (satu latar belakang, misalnya aktivis). Kelompok kami memutuskan untuk hetero. Saya memilih menjadi ilmuwan.

Diskusi dimulai, dan anggota pertama dan kedua sudah menyampaikan pendapat awal mereka. Tibalah giliran saya. Mati. Mati karena apa yang mau saya katakan sudah diembat oleh mereka berdua. Sungguh sistem yang brilian! (Tapi saya tidak menaruh dendam atau apa lho, sama si anggota pertama, hehe). Namun saya berpikir cepat. Sayangnya, pikira cepat saya menuntun saya pada perilaku ngeles. Saya pun meminta anggota sebelah saya, si nomor empat, untuk berbicara duluan. Lagaknya sih seakan seperti menjadi perangkum, padahal sebenarnya saya sedang sibuk mikir.

Singkat cerita, saya mati kutu. Saya berbicara sekitar tiga kali di forum itu, dan tidak semuanya benar-benar berisi. Tapi meskipun kelompok saya kurang kohesif, saya melihat adanya upaya mereka, yang sepertinya sadar akan kematikutuan saya, untuk memasukkan solusi saya sebagai salah satu solusi kelompok. Terima kasih, teman-teman! :)

EVALUASI KETIGA: fokus pada saat membaca artikel. Gunakan kertas kosong yang disediakan untuk membuat mindmap atau analisis-analisis tentang artikel tersebut. Pikirkan pendapat dan solusi sekaligus di sesi ini, karena itulah yang nanti akan dibicarakan di forum. Gunakan waktu lima menit ini sebaik mungkin! Oh ya, kalau ada sisa tempat, jangan memakainya untuk membuat komik. Meskipun komiknya bagus, saya kira sisa tempat itu lebih baik digunakan untuk mencatat omongan teman-teman sekelompok. Lumayan kan, dapat nilai tambah karena bisa jadi notulis. Tapi tentu saja peran ini hanya bisa dicapai jika kalian tidak panik seperti saya.

Seleksi Wawancara: ..Wawancara

Besoknya, saya menjalani bagian kedua seleksi wawancara, yaitu wawancara. Kenapa sih namanya seleksi wawancara, kalau isinya bukan hanya seleksi wawancara? Mungkin ini karena sebenarnya LGD bukanlah fitur yang ada sejak beasiswa LPDP dibuka tahun 2013 lalu. Saat itu, seleksi wawancara hanyalah berisi sesi wawancara. Barangkali.

Di hari wawancara, saya menyempatkan diri untuk mencetak lebih dari 30 lembar kertas di warnet. Kertas-kertas itu adalah data penunjang yang nanti akan saya gunakan saat berbicara. Bicara dengan data tentu akan membuat saya terlihat menguasai apa yang saya sampaikan, dan tidak terkesan mengada-ada.

Setelah tertunda hampir setengah jam, akhirnya saya masuk ke ruang wawancara. Saya mencoba santai dan menghampiri meja wawancara dengan percaya diri. Saya cukup kaget juga ketika ternyata salah satu pewawancara saya adalah dosen saya di UI. Sepertinya beliau berperan sebagai psikolog, karena selain beliau adalah psikolog, pewawancara yang lain lebih terlihat seperti ilmuwan. Bapak yang duduk di depan saya sudah agak tua dan selalu tersenyum, dan bapak yang di sebelah kanannya lebih muda. Dosen saya sendiri adalah seorang wanita.

Saya diminta memperkenalkan diri oleh bapak yang di tengah. Bapak ini adalah pewawancara yang paling banyak berbicara. Setelah memperkenalkan diri, saya diminta menjelaskan cita-cita saya dalam bahasa Inggris. Sepertinya saya kaget hingga akhirnya gugup, dan tidak bisa benar-benar menceritakan ambisi saya dengan lancar. Si bapak terlihat bingung. Mati.

EVALUASI KEEMPAT: Siapkan semua jawaban dalam bahasa Inggris.

Setelah memperkenalkan diri, saya juga ditanya tentang alasan ikut beasiswa LPDP. Jujur saya kurang siap dengan pertanyaan ini, meskipun sudah punya jawabannya. Jadi entah mengapa saya menjawab bahwa saya ikut LPDP karena 1) pembiayaan penuh, dan 2) karena LPDP sesuai dengan visi saya memajukan Indonesia. Saat ditanya seperti apa visi saya, saya terbata-bata.

EVALUASI KELIMA: Siapkan jawaban untuk pertanyaan tentang alasan. Juga versi bahasa Inggrisnya. Kan siapa tahu.

Saya tidak benar-benar ingat pertanyaannya secara rinci, tapi yang jelas, si bapak tengah banyak menggali tentang cita-cita saya. Beliau bertanya, misalnya, tentang di mana saya akan mengaplikasikan ilmu saya sekembalinya dari Inggris nanti. Dosen saya, sang terduga psikolog, bertanya tentang keluarga saya, tentang pengalaman organisasi, dan siapa ahli behavioral economics yang saya ‘anut’, dalam artian dibaca bukunya.

Nah, mengapa saya tidak berani menyimpulkan bahwa dosen saya berperan sebagai psikolog? Jawabannya adalah karena si bapak yang di sebelah kiri, yang menurut saya paling diam, bertanya pertanyaan-pertanyaan seperti (bukan kutipan langsung ya):

1) “Menurut kamu, gelar formal itu apa sih? [Maksud saya,] kamu kan orangnya tidak formal-formal banget, begitu. Apa makna gelar formal buat kamu? Bukannya kamu bisa belajar ilmu itu di mana saja?”
2) “Kalau kamu menjadi reviewer LPDP, kira-kira orang seperti kamu ini lolos, nggak?”

Buat saya sih, pertanyaannya seperti psikolog, hehehe. Ya selain itu, bapak ini juga bertanya, “Kalau kamu tidak kuliah di Inggris, kira-kira di mana?” Saya kira, ini maksudnya meminta saya memilih kampus lain yang lebih wah dari Warwick. Eh ternyata di ujungnya, beliau bilang, “Bukan, maksud saya, apakah di Indonesia tidak ada?” Halah.

Secara umum, saya sebenarnya puas dengan sesi wawancara ini, karena entah mengapa saya percaya bahwa saya cukup percaya diri. Ya ada bolongnya sih, tapi saya tetap menilai sesi wawancara dengan lebih positif dibanding sesi LGD. Beberapa pertanyaan saya jawab dengan keren seperti pertanyaan nomor satu dari si bapak pendiam: “Ya, saya adalah orang yang percaya bahwa ilmu bisa dipelajari di mana saja. Tujuan saya berkuliah bukan hanya untuk ilmu, tapi juga interaksi dengan ahli-ahli di bidang itu”. Ya kira-kira begitulah.

Sudah sih, itu saja evaluasinya. Secara umum, saya akui saya kurang persiapan, baik untuk LGD maupun wawancara.

Lalu, sekarang saya mau apa? Tentu saja, saya akan melamar sekali lagi. Mimpi saya belum dan tidak akan mati. Tapi saya butuh langkah pertama, dan itu adalah berbenah. Saya akan memperbaiki banyak sekali hal, termasuk esai Sukses Terbesar Dalam Hidupku dan Peranku Bagi Indonesia. Saya juga akan merancang jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul, dan menyiapkan versi bahasa Inggrisnya. Banyak hal. Banyak sekali.

Saya ingin siap, karena kesempatan itu hanya datang untuk mereka yang siap. Semoga kita semua jadi orang yang siap sukses!

Belajar Sendiri

Seperti yang pernah saya laporkan di tulisan tentang angka 37, saya sedang dalam masa belajar mandiri. Tidak hanya terbatas pada matematika, saya pun (berencana) belajar tentang beberapa hal lain yang sekiranya akan berguna, terutama jika saya lolos seleksi Beasiswa Pendidikan Indonesia dari LPDP dan bisa melanjutkan kuliah di University of Warwick.

Mohon luangkan waktu 60 detik untuk mendoakan saya, apapun keyakinan kalian. Terima kasih banyak.

Lanjut. Jika saya berhasil lolos seleksi beasiswa dan lanjut kuliah, saya punya waktu sekitar 6 bulan untuk bersiap diri secara akademis. Perlu diketahui bahwa saya sudah lulus kuliah sejak tahun 2013, dan belum pernah bekerja sebagai pegawai di perusahaan manapun. Artinya, saya jauh dari dunia akademis dan otak saya banyak dianggurkan (tidak dalam arti sebenarnya). Akan sangat berbahaya bila saya dan otak saya tidak siap menerima gempuran ilmu nantinya. Pokoknya berbahaya deh, tidak usah banyak tanya.

Lalu, apa yang harus saya pelajari? Sebelum menjawab pertanyaan itu, saya harus beritahu dulu bahwa saya akan belajar di Coursera, sebuah situs web yang menyediakan bermacam-macam Massive Open Online Course (gampangnya: kelas online gratis). Oh ya, selain Coursera, ada juga yang namanya Khan Academy dan edX. Nah, kalau yang itu betulan gratis.

Eh, sampai di mana kita? Oh ya. Nah, karena saya hendak melanjutkan pendidikan di program MSc Behavioural and Economic Science, saya merasa perlu untuk ikut kelas-kelas sebagai berikut (tidak diurutkan berdasarkan apapun):

  • Writing in the Sciences (Stanford University)
    Sesuai namanya, di kelas ini saya akan belajar cara menulis ilmiah. Perlu dipelajari karena saya tidak pernah menulis ilmiah lagi sejak skripsi, dan membuat tulisan ilmiah tidak semudah membuat tulisan di blog. Di edX, saya mendaftar di kelas yang sepertinya serupa bernama Principles of Written English.
  • A Beginner’s Guide to Irrational Behavior (Duke University)
    Kelas favorit saya. Sudah pernah dua kali diambil tanpa pernah menyelesaikannya. Kelas ini adalah semacam pengantar behavioral economics (BE). Diajar oleh Dan Ariely, penulis tiga buku best seller tentang BE sekaligus salah satu ilmuwan favorit saya. Di edX, lagi-lagi ada kelas yang serupa: Behavioural Economics in Action.
  • Understanding Research Methods (University of London)
    Kelas ini dan kelas Writing di atas, bagi saya, adalah kelas-kelas ‘dasar’. Ya, saya harus menguasai metode riset. Perlu saya jelaskan alasannya?
  • Data Analysis and Statistical Inference (Duke University)
    Kelas ini seakan adalah kelas pendamping dari Research Methods, karena di UI dulu saya belajar Statistika dan Metode Penelitian dalam satu kuliah. Cetek ya alasannya.
  • Think Again: How to Reason and Argue (Duke University)
    Jujur, saya merasa berargumen adalah salah satu kelemahan terbesar yang saya miliki. Saya adalah orang yang cenderung tidak percaya diri dalam mengungkapkan pendapat, terutama ketika saya tidak terlalu menguasai apa yang sedang dibicarakan atau, yang lebih parah, takut salah. Oleh seorang teman yang sekarang sedang berkuliah di Belanda, ketepatan dalam berpikir dan berpendapat adalah salah satu kunci sukses seorang akademisi.
  • Game Theory dan Game Theory II: Advanced Applications (Stanford University dan The University of British Columbia)
    Game theory, bagi saya, adalah salah satu bidang kajian ‘standar’ dalam BE. Saat ini, saya bisa dibilang hampir buta tentang ilmu ini, yang merupakan situasi yang berbahaya.
  • Competitive Strategy (Ludwig-Maximilians-Universität München)
    Pada dasarnya kelas ini juga adalah kelas game theory. Saya tertarik pada kelas ini karena sepertinya lebih sederhana daripada dua kelas di atas. Kemaraan (progress) saya di kelas ini bahkan sudah sebanyak 5%.
  • Introduction to Mathematical Thinking (Stanford University)
    Ini yang paling penting. Saya sangat, sangat lemah di matematika. Lemah sekali. Tapi saya tidak ingin terus-terusan berada di kondisi itu. Saya sadar bahwa penguasaan matematika adalah wajib bagi seorang behavioral scientist. Meski begitu, saya tidak akan masuk ke kelas ini hingga saya cukup percaya diri dengan menguasai lebih banyak kemampuan dasar dan lanjutan matematika di Khan Academy (klik tautan pertama di tulisan ini).

Di luar kuliah, saya (melalui petuah teman dari Belanda tadi) juga ingin sekali menugasi diri saya sendiri untuk:

  • Membaca artikel-artikel jurnal tentang BE, terutama yang sudah ada di harddisk komputer saya. Tujuannya adalah agar saya terbiasa dengan hal tersebut (lagi).
  • Melakukan review terhadap artikel-artikel tadi, sehingga saya terlatih untuk berpikir kritis sekaligus mengasah kemampuan saya mengungkapkan argumentasi dalam bentuk tulisan. Saya menemukan sebuah blog keren yang bisa dijadikan acuan: dark side of the nudge.
  • Ditambahkan kemudian. (Karena dua poin kurang sreg di mata)

Ya, begitulah. Bagaimanapun, saya sadar bahwa kemampuan saya untuk bertahan pada rencana hampir setara dengan ikan kembung, sehingga mungkin tidak semua kelas dan tugas diri akan saya selesaikan 100%, meskipun pasti saya akan berusaha ke sana (karena katanya gantunglah cita-citamu setinggi langit-langit kamar). Tujuan saya hanyalah ingin menjadi lebih siap, kok, meskipun definisi siap saya adalah ‘menghancurkan ekspektasi bule-bule akan pelajar asal Indonesia’. Haha, ha. Sekali lagi, saya mohon doanya ya.

Kita Lihat Saja Nanti

Ceritanya saya berencana menembak Prof. Nick Chater sebagai supervisor di University of Warwick nanti. Saya tentu melakukan hal tersebut (saat ini) masih karena ambisi; saya belum tahu medannya. Tapi tak apalah, sebagai pelecut semangat saja.

Ya, saya ingin melanjutkan kuliah program magister di Warwick, tepatnya di program MSc. in Behavioural and Economics Science. Tidak usah takut melihat nama programnya, tidak seram kok.

Omong-omong, saat ini saya sedang dalam proses menunggu Seleksi Wawancara Beasiswa Pendidikan Indonesia dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Saya kedapatan tanggal 24-25 Februari ini, di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Mengapa saya menulis ini? LPDP adalah salah satu topik yang (sepertinya) paling banyak di-google di Indonesia. Artinya, ada peningkatan kemungkinan entri ini dibaca oleh orang banyak. Terus? Ya saya minta doanya, ya.