Kemeja Jimi

Hari ini Jimi mulai bekerja di kantornya yang baru.

“Jim, selamet yeeee!!!!! Jangan lupa ntar tanggal 1 traktir2 guaaa!!!”

Begitu bunyi pesan singkat dari Andi, 25 tahun, pengangguran merangkap sahabat karib Jimi selama kuliah. Jimi agak tersinggung juga, karena yang dia tahu, cuma buruh pabrik di daerah pinggiran yang gajian setiap tanggal 1. Lagipula siapa sih yang masih kirim SMS jaman sekarang?

Kantor baru Jimi tidak lebih besar dari kantor lamanya.

“Ah, siapa pula yang peduli ukuran kantor,” gumam Jimi. Kenyataan bahwa hal pertama yang ia lakukan adalah membandingkan ukuran fisik kantornya seperti tidak lagi disadari. Kasihan.

“BERISIK LU!!! IDUP IDUP GUA GAUSAH BANYAK BACOTTTTT!!!”

Jimi terkaget. Di depannya ada seorang bapak-bapak sedang berbicara sendiri. Ah, nampaknya ia marah-marah ke orang malang di seberang sana, karena bapak itu mengenakan earphone. Earphone sebelah yang bentuknya seperti daun telinga itu. Yang kabelnya begitu pendek sehingga handphone harus tetap didekatkan ke kepala. Hilang makna.

Jimi melewati bapak tadi. Ia berjalan menuju ke ruang HR.

Sesampainya di depan pintu ruang tujuannya, Jimi terdiam. Ia memperhatikan sesuatu yang amat menarik hatinya melalui celah pintu. Bukan celah juga sebenarnya, karena ada dua lubang kaca vertikal di pintu tersebut.

Ada sebentuk kemeja berwarna merah tua tergantung di hanger, di sebuah lemari di dalam ruang HR. Singkat cerita kemeja itulah yang membuat Jimi mengakhiri petualangannya mencari kerja selama dua bulan.

Bersambung ke bagian dua.

Iklan

Jump

“I have done this before, aren’t I?”

It is hard to recall when, but everything Sunu sees now has been there before. He is standing on the edge of a cliff, with no shirts on. His shoes has worn off, and is as messy as his hair. From where he is, he can see almost all the trees in a nearby forest, and he can hear the sea roars below. It is an insanely familiar situation.

“Did I jump?”

He looks down, and the familiarity is still there. He can see water splashes to giant rocks down there.  If Sunu jumped before, he must be dead now. So he pinches his arm, and it hurts.

And it is familiar.”What is this?”Sunu closes his eyes. He takes a deep breath. Twice. Three times. Four times. Then nothing.Sunu stops breathing.”This is a life not worth living”, he says.And he jumps.

Cerita Cendikia

Pada suatu hari..

“Ah tidak,” gumam Cendikia. Ia tidak ingin memulai ceritanya dengan pembukaan yang biasa-biasa saja. Cerita ini jauh lebih hebat dari sekedar pada suatu hari. “Tapi apa ya?”

Cendikia adalah seorang pelajar. Ia sudah lulus kuliah, tapi tetap menganggap dirinya sebagai seorang pelajar. Baginya, belajar adalah proses yang berlangsung selama seumur hidup. Bangga sekali Cendikia dengan sikapnya ini, meskipun beberapa temannya tahu Cendikia hanya menirunya dari Pak Habibie yang dulu pernah merancang pesawat.

Pesawat Styrofoam yang di ujungnya harus diselipkan moncong plastik untuk meningkatkan aerodinamikanya. Sayang, kabarnya di New York sana material tersebut rencananya akan dicabut larangan beredarnya, Juli nanti. “Tapi ini masih awal bulan Maret, jadi mungkin aku bisa menjual banyak pesawat sebelum dilarang”, ujar Pak Habibie dalam hati. Ia bicara seakan dirinya adalah bandar pesawat terbang betulan, dan seakan dirinya ada di New York. Pak Habibie memang licik, tidak seperti adiknya, Surtinah.

Surtinah, tidak seperti Bibie, panggilan akrab kakaknya, tidak memilih berdagang sebagai jalur kariernya. Sebagai seorang perempuan, ia merasa lebih cocok bekerja sebagai seorang direktur utama di perusahaan tambang minyak multinasional yang berkantor pusat di Mesir. Bagi Tinah (panggilannya, meskipun tidak ada seorangpun memanggilnya seperti itu kecuali suaminya), menjadi direktur utama di perusahaan tambang minyak multinasional yang berkantor pusat di Mesir jauh lebih bermartabat daripada tidak menjadi direktur utama di perusahaan tambang minyak multinasional yang berkantor pusat di Mesir. Gajinya memang tidak besar, namun ia merasa bisa melakukan sesuatu untuk orang lain di pekerjaannya ini. Dan hal itulah yang membuatnya bertahan.

Sementara itu, Cendikia masih berkutat dengan pembukaan ceritanya. Sebagai seorang pencerita, ia tidak seharusnya terpaku dengan bagaimana ia harus membuka kisahnya. Seharusnya ia membiarkan isi kepalanya mengalir melalui cerita. Dalam hal ini Cendikia demikian salahnya, hingga Tantowi merasa kasihan dan mempersilahkan Cendikia untuk membawa pulang papan karton bertuliskan Rp1.000.000 ke rumah meskipun ia tidak berhasil menjawab satupun pertanyaan.

Melihat Cendikia yang tampak sedih, Pak Bibie menghampirinya.

“Cendikia”, panggilnya, “Apa yang ada di dalam pikiranmu, anak muda?”
Yang dipanggil terkaget, “Eh.. Anu..”
“Oh..”
“Lho, memangnya saya sudah bilang sesuatu, pak?”
“Belum”, kata Pak Bibie singkat, “Kenalkan, saya Habibie Said. Saya pemilik Habibie Industries, yang bergerak di sektor manufaktur pesawat terbang”
“Saya uhh.. Saya Cendikia..”

Ternyata masalah yang dihadapi Cendikia soal cara mengawali cerita demikian hebatnya, hingga ia tidak sadar bahwa Pak Bibie mengetahui namanya meskipun mereka belum pernah berkenalan. Sungguh sebuah pelajaran hidup yang amat penting: seberat apapun masalah yang dihadapi, jangan biarkan masalah itu mengganggu kehidupanmu. Sayang Cendikia tidak menyadari pelajaran berharga ini.

“Saya lihat kamu sedang menulis sesuatu”, Pak Bibie memecah keheningan.
“Saya juga melihat yang demikian”, Cendikia menimpali.
“Ya, sepertinya kamu memang sedang menulis sesuatu”.
“Benar. Saya pun memandangnya seperti itu”.
“Kamu menulis sesuatu. Saya yakin itu, nak”.
“Saya punya keyakinan yang sama dengan bapak”.
“Kalau dipikir-pikir, apa yang kamu lakukan sekarang ini adalah menulis”.
“Demikian halnya yang ada dalam pikiran saya”.

“Jangan terpaku dengan pembukaannya. Tulis saja”.
“Eh?”

Detik demi detik berlalu. Tidak terasa, sudah empat ratus tujuh kata berhasil ditebar Cendikia dalam ceritanya, hanya dalam beberapa menit. Kekaguman pun muncul pada sosok Pak Bibie. Ia ingin menjadi orang yang cerdas seperti Pak Bibie. Ia juga ingin membuat industries seperti Pak Bibie, tapi tentu dengan namanya sendiri.

Akhirnya cerita Cendikia selesai. Ia merasa bangga sekali, dan ingin segera ditunjukkannya ke teman-teman.

Beginilah cerita buatan Cendikia:

Di tengah kekalutan jiwa yang menyayat hati, Sofyan mengintai dua orang yang dicurigai atasannya sebagai pemasok narkotika bagi penghuni lembaga pemasyarakatan Titik Nadir, Kota Puncak Alor. Sofyan adalah seorang polisi muda (baik usia maupun posisinya di hierarki sosial satuannya) yang sebagaimana layaknya polisi kota Puncak Alor yang baru bergabung dalam sebuah satuan: bersemangat, bersih, dan tidak gendut. Beratnya hanya 65kg, cukup ideal bagi Sofyan yang bertinggi badan 178cm. Larinya juga cepat.

Meskipun bersih dan penuh semangat, Sofyan mengintai dua buruannya tadi dengan hati yang kalut. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah kenyataan bahwa dirinya mencurigai kedua orang tadi sebagai Wanda dan Siti, kedua wanita yang pernah diincarnya semasa kuliah di fakultas hukum dulu. Tentu mereka diincar Sofyan dalam konteks asmara, bukan yang lainnya.

Wanda, yang merupakan adik kelas Sofyan, tamat dari Fakultas Hukum Universitas Puncak Alor sebagai lulusan terbaik. Semasa kuliah dulu, Wanda aktif di berbagai kegiatan kemahasiswaan dan sering diminta pihak kampus untuk menjadi wakil dalam berbagai kompetisi moot court. Wanda juga dijagokan untuk menduduki jabatan sebagai ketua senat mahasiswa, bahkan sejak tahun keduanya. Tapi ia menolak semua tawaran untuk memimpin di berbagai lembaga karena ingin fokus dengan mimpinya. Menjadi ketua organisasi bukan merupakan bagian dari mimpi itu.

Lain Wanda, lain pula Siti. Wanita muda ini tidak menonjol dalam bidang apapun kecuali indeks prestasinya. Kalau saja ia satu angkatan dengan Wanda, mereka berdua mungkin akan sikut-sikutan untuk meraih gelar lulusan terbaik. Tapi Siti bukanlah seorang yang ambisius. Ia memilih untuk tetap menginjak tanah. Mungkin sikap itulah yang membuatnya tidak menonjol. Dibanding bergabung dengan organisasi kemahasiswaan, Siti lebih suka bergumul dengan buku dan penelitian.

Namun entah bagaimana, keduanya banting stirtidak, ini namanya banting mobilmenjadi kriminal.

Sofyan jatuh hati pada kedua wanita itu. Ia, yang biasa-biasa saja di sektor fisik maupun kognisi, merasa bingung untuk menentukan siapa yang pantas menjadi pengisi kesepian hatinya. Ia ingin mendapatkan keduanya, namun tentu saja hal itu tidak mungkin. Tapi ia ingin satu dan tidak ingin kehilangan yang lainnya. Setiap berada dekat secara fisik (misalnya ada dalam satu antrean) dengan Wanda, ia merasa kesempatannya untuk mendapatkan Siti berkurang. Begitupun sebaliknya.

Maka di sinilah Sofyan berdiri, menempelkan punggung tangannya ke tembok. Sesekali ia memantau kedua buruannya beraksi. Ia kalut, “Harus pilih yang mana?”

Sofyan tahu bahwa dalam kondisi ini, di mana kedua target operasi ada di tempat yang sama, menangkap keduanya bukanlah hal yang mudah. Apalagi ia sedang sendirian. Menangkap satu orang dan membiarkan yang satu lagi lepas adalah opsi terbaik. Kemudian Sofyan kembali teringat kegalauannya semasa kuliah. Bagaimana mungkin dilema yang dialaminya bertahun-tahun lalu kembali terjadi di saat sepenting ini?

Sofyan menunggu saat-saat terbaik. Ia harus menangkap keduanya. Harus.

Lalu ia menunggu, menunggu, menunggu.

Sofyan menunggu.

Lalu Wanda dan Siti menembak kepala mereka masing-masing.

Tantangan Ramadhan, Hari 02: Paket Pijat Paling Plong

Tantangan Ramadhan adalah.. Ya, sebenarnya sih kalian pasti tahu tentang model tulisan blog seperti ini. Selama bulan puasa ini saya akan menulis satu entri setiap harinya. Jelas ya.

***

Servisnya sih ada tiga: pijat lulur, pijat tradisional, dan pijat refleksi. Misterinya adalah: mengapa nama yang dipasang di plang hanya pijat refleksi?

Bahar termenung sebentar di depan pagar Panti Pijat Refleksi Rojak (disingkat Papirro), yang dimiliki Om Rojak, seorang kolega papanya. Baru kali ini Bahar berkunjung ke tempat seperti itu. Sudah empat setengah hari ini pundaknya, lututnya, lehernya, wajahnya, perutnya, bokongnyapada dasarnya seluruh tubuh, bahkan rambutnyaterasa pegal. Bagaimana pula seseorang bisa merasakan pegal di rambutnya? Sepegal itulah yang Bahar rasakan. Ia sendiri takjub bisa sampai di Papirro tanpa cedera berarti.

Bahar memutuskan masuk. Di dalam, seorang resepsionis menyambutnya. Seorang wanita. Bahar mencoba stay cool.

Lanjutkan membaca

Puncak

Kita melanjutkan perjalanan dengan menaiki sepeda. Uphill. Aku berada di depan, kamu dan mereka jauh di belakang. Buatku, tujuan kita hanya terus saja mengarungi jalan yang ada. Semakin lama aku semakin kehilangan jejak kamu dan mereka. Aku rasa itu hanya karena kalian lambat.

Di sepanjang jalan aku melihat banyak sekali kucing. Bukan sembarang kucing, karena bulunya bagus-bagus dan terlihat sekali bahwa mereka kucing keturunan. Aku sempat heran mengapa mereka bisa ada di desa sepert ini, tapi aku hiraukan saja. Aku melanjutkan perjalanan. Kamu dan yang lainnya masih tak terlihat.

Di satu titik perjalanan, aku menemukan semacam warung. Mungkin tempat untuk yang singgah melepas lelah. Aku melihat tiga orang pemuda berbaju serba hitam. Mereka sedang menuju ke pintu keluar, ke arahku, dengan tergesa-gesa. Salah satunya menaiki segway. Tak lama, mereka menghilang dari pandangan.

Aku terus naik hingga menemukan sebuah.. rumah? Aku masuk. Banyak orang di dalamnya. Banyak kabel-kabel. Orang-orang di sana mengenakan seragam seperti kru televisi. Aku menaiki sebuah lantai yang agak naik, tempat beberapa kru berada. Di situ, aku meng-instant message kamu.

“Pada di mana?”
“Di puncak. Bisa minum teh di sini. Ada panda juga”
Aku merasa agak kesal atas responmu.
“Puncak itu di mana sih?””Ayo cepetan ke sini”

Lalu aku berdiri, hendak melompat dari lantai naik ini. Begitu melompat, aku merasa seseorang mendorongku. Tangan kananku menyangkut di sebuah kabel, tapi aku tidak apa-apa. Aku marah sekali. Lalu ternyata si seseorang itu adalah Ariel Noah. Dia berpakaian serba hitam. Aku agak sungkan namun gengsi juga jika tidak marah, jadi aku tendang saja kakinya. Tidak kena.

Ariel mengajakku mengobrol. Untuk mengakrabkan suasanya, aku bertanya soal pemuda-pemuda baju hitam tadi.

“Yang bawa segway siapa?”
“Oh itu, si xxx”, Ariel menjawab dengan tidak jelas.
“Siapa tuh?”
“Itu, di lagu ‘Dekat Mataku'”
“Oh.. Jaman Peterpan ya?”
“Iya, pas Peterpan”

Tidak lama sekelompok pemuda datang. Terlihat sosok Andika The Titans. Aku segera sadar bahwa saat ini Peterpan sedang reuni.

Aku tidak ingin membuang waktu Ariel, lalu bertanya lagi,
“Riel, puncak di mana sih?”
“Hmm…”, dia tampak berpikir keras. “..Kayaknya nggak lewat Indonesia deh HAHAHAHAHAHAHA”

Aku bergegas keluar dari rumah itu. Lalu sadar handphone-ku tertinggal. Aku masuk lagi, Handphone-ku hilang. Matilah.

Lalu aku terbangun. Oh, masih dicas tuh.

Hetset

Aku naik, odong-odong
Aku naik, odong-odong

Lagu itu terus terngiang sepanjang perjalananku ke kantor. Mimpi apa semalam, sejak bangun pagi sudah dicekoki lagu anak-anak semacam itu. Jaman kecil dulu, yang gengsi itu ya naik delman. Naik odong-odong kok bangga. Tapi biarlah, setiap orang punya kebanggaan di masa kecilnya masing-masing. Angkatan bapak-bapak jadul pernah bangga dengan Warkop di era 80-an, sedangkan bapak-bapak generasi sekarang mengenang tahun 90-an dengan Weezer-nya. (Anak tahun 2000-an punya Westlife). Ya, begitulah..

Perjalanan ke kantor naik motor sangat tidak menyenangkan. Bukan macetnya, bukan polusinya, bukan tidak-ada-yang-dibonceng-nya, tapi karena aku tidak punya hetset. Menyebutnya lebih enak seperti itu dibanding nama resminya, earphone, karena earphone terdengar seperti nama depan salah satu aset sepak bola negara kita. Sudah tiga minggu sejak hetset-ku rusak karena terlindas roda kursi kantor. Bodoh juga sih, hanya gara-gara mau ambil hetset jatuh tapi malas berdiri. Geser, geser, geser.. dan krek, bagian plastiknya hancur. Setelah aku cari-cari di Google, ternyata bagian itu namanya housing. Tonjolan kabel di belakang housing itu namanya strain relief, yang (sepertinya) berfungsi untuk menahan kabel agar tidak mudah putus saat ditarik. Siapa juga yang mau menarik-narik kabel, kurang kerjaan.

Jadilah aku tanpa Oasis, tanpa The Strokes, tanpa Kasabian.. Dan kantor masih jauh.

Sampai di kantor, semuanya biasa saja. Sangat biasa hingga aku malas bercerita. Kecuali si Hani yang ternyata hamil anak pertama, kembar tiga. Anton kos-kosannya kebanjiran dan ada tikus di mana-mana, Deni ke kantor pakai kaos, lalu ada petugas cleaning service baru, namanya Michael.. atau Michel ya? Biarlah. Siti dari bagian HRD tadi datang ke mejaku, katanya genteng rumahnya baru diganti menggunakan atap rumbia. Bu Sulastri (atasanku) tiba-tiba mengumumkan diri ingin resign dan menjadi guru Fisika SMP. Setelah itu aku kerja seperti biasa, sambil sesekali mengecek Twitter, 9GAG, Reddit, lalu mengetik-ngetik laporan, fotokopi dokumen, lalu pulang. Biasa sekali.

Lalu pulang naik motor. Wajahku akan seperti ini –> -..- jika digambarkan dalam emotikon. Semua gara-gara hetset rusak.

Tiba-tiba, di sebuah tikungan aku melihat sesuatu yang.. familiar. Sebuah hetset! Aku menepi. Wah sedang apa hetset sekecil itu di tengah jalan begini? Nanti kalau terlindas bagaimana? Eh tunggu, hetsetnya sudah hancur! Kondisinya bahkan lebih menyedihkan dari punyaku. Jalan ini cukup sepi, jadi aku bisa memungutnya. Wah kacau sekali, bukan cuma housing yang hancur, kabelnya juga sudah terurai. Untung jack 3.5mm-nya, ujung yang masuk ke lubang di handphone, tidak apa-apa. Syukurlah. Aku bawa pulang hetset ini. Entah mengapa aku merasakan dorongan untuk melakukannya. Dorongannya sangat kuat, lebih kuat dari dorongan untuk sukses. Di sisi lain, aku juga merasa ada tarikan dari hetset itu. Ia seperti memintaku untuk membawanya pulang. Sesampainya di rumah, aku meletakkan hetset hancur itu di atas meja. Lalu aku mandi.

Hetset itu masih ada di meja setelah aku selesai mandi. Sejauh ini tidak ada hal-hal mistis yang terjadi seperti terbang atau menghilang atau memendarkan cahaya atau bisa berdiri di atas jack-nya. Untuk itulah aku tidak merasa perlu untuk memandikannya. Namun aku ingin hetset ini bisa berfungsi lagi, lebih ingin daripada memperbaiki hetset lamaku. Aku membiarkan si hetset tergeletak di atas meja, lalu aku masuk kamar dan tertidur. Besok Sabtu, libur.

Jadi, hari ini kubawa hetset baru itu ke konter pulsa depan komplek. Aku tidak berencana memperbaikinya di sana, karena tujuanku ke konter adalah untuk membeli pulsa. Lagipula, mana bisa si tukang pulsa memperbaiki benda ini?

“Mas, pulsa Telkomsel-nya ya”, kataku.
“Berapa, Mbak?”, si Mas Pulsa bertanya.
“Mm.. Sepuluh ribu ada?”, tanggal tua berbicara.
“Yang elektrik apa fisik?”
“Yang kartu aja mas, itu yang mana?”
“Oh, itu fisik Mbak”
“Oke deh yang fisik, sepuluh ribu. Berapa?”
“Sepuluh ribu yang fisik kosong Mbak”
“Kosong?”
“Iya, kita emang nggak jual yang fisik. Tuh liat aja spanduknya”
Karmin Voucher Elektrik tertulis besar-besar. Oh. “Ya sudah, elektrik deh”
“Tulis di sini Mbak nomernya”
Aku sebenarnya tidak suka membeli pulsa elektrik, karena data nomor pelanggannya tersimpan (di buku tukang pulsa), dan bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Minimal oleh si tukang pulsa sendiri. Aku bergegas menuju tempat servis handphone yang terletak di belakang konter pulsa itu.

Rupa-rupanya tempat servis sedang ramai. Aku juga tidak tahu mengapa bisa begitu, karena biasanya yang ramai adalah tempat servis motor. Untuk mengisi waktu, aku pergi ke warung bakso, yang sebenarnya berjarak agak jauh dari sini. Harus naik angkot tiga kali untuk mencapainya. Kondisi diperparah dengan jarangnya angkot yang lewat di hari Sabtu. Kebanyakan supirnya sedang bertamasya. Oh, itu ada satu lewat. Angkotnya sepi. Aku naik.

Selain aku, ada tiga orang di dalam kabin belakang angkot. Tidak termasuk supir ya, karena supir ada di depan. Dua di antara tiga orang itu adalah siswi SMP, dan satu lagi adalah pemuda dengan kumis tipis dan codet. Aku tidak menebak siswi-siswi itu sebagai anak SMP dari warna roknya, tetapi dari materi obrolan mereka. Cowok, cowok, cowok, gebetan, cowok, cowok. Di samping itu, tidak ada yang aneh dari si pemuda bercodet, kecuali bahwa dia sedang makan rambutan dan kulitnya dibuang ke bawah jok.

Aku melihat warung bakso tujuanku dari kejauhan, dan secara refleks mengatakan “kiri bang” sambil mengetuk jendela di sampingku dengan satu uang Rp 100, dua uang Rp 200, dan lima uang Rp 500. Uang Rp 500 yang kugunakan untuk mengetuk adalah yang keluaran terbaru (warna perak), karena keluaran lama (gambar melati) sudah langka dan aku merasa sayang menggunakannya. Supir angkot yang mendengar isyaratku menghentikan angkotnya. Aku turun dan membayarnya dengan uang tadi, dan angkot berlalu tanpa kekurangan sesuatu apapun.

Baru saja mengambil satu-dua langkah menuju warung bakso, handphone-ku bergetar. Rupanya ada BBM dari tempat servis. Meskipun handphone-ku bukan Blackberry, tapi bisa untuk BBM-an, karena sistem operasi handphone-ku adalah A****** versi 4.3 yang kompatibel dengan BBM.

“Mbk, tlg k tpt servis y. Skrg.”, ujar pesan di BBM itu. Aku bisa langsung menangkap maksudnya meskipun disingkat-singkat, namun yang menjadi pertanyaan dan membuatku panik adalah bagaimana dia bisa mengirim pesan BBM kepadaku? Aku tidak pernah merasa meng-invite siapapun di toko servis. Ke sana juga baru hari ini. Tapi aku segera menyetop angkot yang lewat untuk bergegas ke sana.

Ternyata toko servis sudah sepi. Aku duduk di meja konter. Ada air mineral gelas tersedia bersama sedotannya, dan karena haus, langsung kuminum. Tak lama seorang pemuda bercodet keluar. Dia tidak berkumis, karena dialah tukang servisnya.

“Tadi adik saya pergi bawa rambutan. Dia lagi hobi makanin rambutan sambil naik angkot”, ujar tukang servis membuka pembicaraan.
“Oh, begitu”, aku mencoba kalem. Ternyata dia kakak orang yang ada di angkot itu.
“Eh iya, Mbak ini yang benerin hetset ya?”
“Iya, Mas”
“Begini Mbak, hetset yang Mbak kasih itu kerusakannya sudah parah. Susah dibenerin, mustahil malah”, katanya. Aku sedikit terkejut karena baru sadar cara berkomunikasi lisannya tidak seperti caranya menulis pesan BBM.
“Begitu ya Mas?”
“Iya”
“Tapi saya mau hetset ini betul lagi Mas, seperti semula”
“Ah, itu mustahil Mbak. Mending Mbak beli hetset baru aja. Nih, yang ini modelnya mirip, cuma kawe cina”.
“Berapa?”
“Dua lima aja”.
“Ya sudah Mas, saya ambil dua”.

EM-31

Di zaman ketika umat manusia dijajah umat buatan manusia, ada permainan antara umat manusia melawan umat buatan manusia. Satu-satu manusia dipilih untuk melawan satu-satu umat buatan manusia. Mereka dipersenjatakan senjata berproyektil dan berada di dua lokasi yang berbeda dan jarak yang cukup jauh. Sepertinya umat buatan manusia sering kalah, atau umat manusia telah membuat umat buatan manusia begitu kesal, sehingga akhirnya umat buatan manusia mengadu manusia dengan manusia. Terlebih lagi, kedua manusia yang diadu adalah pria dan wanita yang saling cinta.

Perlu dijelaskan bahwa di ruangan salah satu pemain ada tombol yang bila ditekan akan menghancurkan seluruh umat buatan manusia. Umat manusia juga bisa hancur. Yang jelas kedua pemain akan selamat. Umat bukan manusia bila hancur bisa regenerasi namun tidak dalam hitungan menit. Lalu permainan dimulai. Karena tidak ada yang menjaga, si pria, yang berada di ruangan dengan tombol penghancur, langsung menekan tombolnya. Semua meledak, dan tidak lama kemudian si wanita datang dan memeluk si pria erat-erat seperti balon. Sekarang fokus mereka adalah menyelamatkan manusia (yang sementara terbebas dari penjajahnya). Perlahan datanglah manusia-manusia yang putus asa, mencoba masuk ke ruangan. Awalnya sedikit namun lama-lama banyak dan ruangan semakin sesak. Mereka semua akhirnya tinggal di sana.