Soal LPDP

Kemarin, 10 Maret 2015, adalah hari pengumuman hasil seleksi beasiswa LPDP gelombang kedua. Singkatnya, saya tidak lolos seleksi di periode ini. Tapi saya tidak berpikir untuk menyerah karena menyerah adalah perbuatan pelaku calon narapidana (kalau belum menyerahkan diri kan namanya buron. Lah, jadi?!). Di kesempatan ini, saya ingin melakukan refleksi. Yah, siapa tahu berguna buat teman-teman yang berencana melamar LPDP juga.

Oh ya, perlu diingat bahwa sekarang LPDP membolehkan peserta yang keberhasilannya tertunda untuk langsung melamar lagi (tidak perlu menunggu sampai enam bulan). Syaratnya, lamaran kedua itu adalah kesempatan terakhir yang bisa diberikan LPDP. Sepertinya sih karena makin ke sini, beasiswa LPDP jadi semakin laris.

Seleksi Administrasi

Lanjut. Oke, refleksi. Selama proses pelamaran beasiswa, saya sudah menjalani dua tahap seleksi, yaitu seleksi administrasi dan seleksi wawancara. Seleksi administrasi bisa saya lewati dengan nyaris sempurna. Mengapa nyaris? Karena ternyata masih ada dokumen yang salah saat saya menyerahkannya ke panitia. Dokumen itu adalah surat pernyataan (yang ada materainya itu lho). Saya seharusnya menulis University of Warwick di kolom universitas, bukan Universitas Indonesia. Yah, mana saya tahu kalau kolom itu harus diisi dengan universitas tujuan. Tapi karena kesalahannya dianggap kecil (dan ternyata yang melakukannya juga lumayan banyak), saya bisa menggantinya.

Seleksi Wawancara: LGD

Selesai masalah administrasi, di hari yang sama, saya dijadwalkan untuk mengikuti subtahap seleksi wawancara: leaderless group discussion atau biasa disebut sebagai LGD. Pengalaman saya kurang baik sih di tahap ini, karena sepanjang observasi saya, hampir semua kelompok LGD sudah kumpul dan mengobrol. Artinya, mereka sudah cukup saling kenal. Saya? Saya baru bertemu separuh anggota kelompok kira-kira 15 menit sebelum masuk ruangan. Salah saya juga sih tidak aktif mencari (tapi sebelumnya saya sudah menghubungi salah satu teman kelompok melalui Facebook, namun tidak berbalas).

Tidak lekatnya hubungan antaranggota kelompok seakan ‘menghukum’ kami di ruang diskusi. Kami jadi tidak bisa menentukan mau seperti apa diskusi berjalan. Semua orang seakan berdiskusi dengan orang yang sama sekali asing (memang sih), padahal di situ kami seharusnya berperan sebagai kumpulan orang yang lebih saling kenal.

Jadi, sampailah kita pada EVALUASI PERTAMA: sebisa mungkin, agresiflah menemukan teman sekelompok diskusi. Bangun hubungan dengan saling berkenalan dan berdiskusi. Atau sekedar mengobrol. Ya pokoknya kenalan lah.

Topik yang dibahas adalah soal pendidikan. Dari pengalaman saya membaca blog orang lain, sepertinya hanya ada dua topik yang dilemparkan oleh LPDP, yaitu pendidikan dan Minerba. Sepertinya, lho. Dan sepertinya artikel yang dibahas dicatut dari Kompas. Tapi, lagi-lagi, sepertinya lho, karena saya tidak begitu ingat. Di sinilah kesalahan saya yang berikutnya: tidak membaca soal pendidikan atau Minerba, dan tidak baca koran Kompas. Saya lebih banyak membaca berita lewat portal berita di Internet, dan hanya mengikuti perkembangan berita yang sedang tren (waktu itu soal Budi Gunawan).

EVALUASI KEDUA: baca koran Kompas (atau koran lain yang populer dan relatif terpercaya). Ya, itu saja, karena belum tentu topik yang keluar adalah pendidikan atau Minerba. Tapi tidak ada salahnya juga memberikan porsi lebih pada topik itu.

Di dalam ruangan, kami diminta untuk duduk melingkari meja (persegi), membentuk huruf ‘U’ yang ujungnya tidak melengkung, dengan bagian yang terbuka menghadap ke arah barat. Posisi duduk ditentukan dengan panggilan. Maksudnya, nama yang dipanggil pertama diminta duduk di kursi pertama (di ujung kanan huruf ‘U’), begitu seterusnya hingga nama terakhir yang duduk di ujung kiri ‘U’.

Saya sendiri kebagian duduk di kursi ketiga dari awal. Kami mendapat paket diskusi berupa artikel dan kertas kosong. Oh ya, bawa pulpen sendiri.

Setelah diminta membaca artikel selama lima menit, kami dipersilahkan untuk berdiskusi. Oh ya, ada dua orang LPDP yang memonitor jalannya diskusi. Bagi orang seperti saya, berada dalam pengawasan yang live dan konstan seperti ini membuat saya cemas (bakat maling sepertinya). Maaf. Oke, jadi ternyata, anggota kelompok yang duduk di kursi nomor satu memutuskan cara berjalannya diskusi dengan cukup brilian: semua mendapat giliran berbicara satu-persatu, dimulai dari dia. Brilian.

Ada dua alasan. Brilian karena cara ini memunculkan keadilan bagi setiap anggota; semua dapat kesempatan bicara. Brilian, karena itu artinya saya dapat giliran bicara ketiga. Ingat kecemasan yang saya alami tadi? Oh, efeknya sungguh luar biasa karena saya tidak bisa fokus membaca artikel. Sekali lagi, brilian.

Dalam diskusi ini, kami diminta untuk memberikan solusi atas sebuah masalah di dunia pendidikan pada menteri pendidikan, dan boleh menentukan akan bentuk kelompoknya: apakah heterogen (terdiri dari beberapa latar belakang pekerjaan) atau homogen (satu latar belakang, misalnya aktivis). Kelompok kami memutuskan untuk hetero. Saya memilih menjadi ilmuwan.

Diskusi dimulai, dan anggota pertama dan kedua sudah menyampaikan pendapat awal mereka. Tibalah giliran saya. Mati. Mati karena apa yang mau saya katakan sudah diembat oleh mereka berdua. Sungguh sistem yang brilian! (Tapi saya tidak menaruh dendam atau apa lho, sama si anggota pertama, hehe). Namun saya berpikir cepat. Sayangnya, pikira cepat saya menuntun saya pada perilaku ngeles. Saya pun meminta anggota sebelah saya, si nomor empat, untuk berbicara duluan. Lagaknya sih seakan seperti menjadi perangkum, padahal sebenarnya saya sedang sibuk mikir.

Singkat cerita, saya mati kutu. Saya berbicara sekitar tiga kali di forum itu, dan tidak semuanya benar-benar berisi. Tapi meskipun kelompok saya kurang kohesif, saya melihat adanya upaya mereka, yang sepertinya sadar akan kematikutuan saya, untuk memasukkan solusi saya sebagai salah satu solusi kelompok. Terima kasih, teman-teman! :)

EVALUASI KETIGA: fokus pada saat membaca artikel. Gunakan kertas kosong yang disediakan untuk membuat mindmap atau analisis-analisis tentang artikel tersebut. Pikirkan pendapat dan solusi sekaligus di sesi ini, karena itulah yang nanti akan dibicarakan di forum. Gunakan waktu lima menit ini sebaik mungkin! Oh ya, kalau ada sisa tempat, jangan memakainya untuk membuat komik. Meskipun komiknya bagus, saya kira sisa tempat itu lebih baik digunakan untuk mencatat omongan teman-teman sekelompok. Lumayan kan, dapat nilai tambah karena bisa jadi notulis. Tapi tentu saja peran ini hanya bisa dicapai jika kalian tidak panik seperti saya.

Seleksi Wawancara: ..Wawancara

Besoknya, saya menjalani bagian kedua seleksi wawancara, yaitu wawancara. Kenapa sih namanya seleksi wawancara, kalau isinya bukan hanya seleksi wawancara? Mungkin ini karena sebenarnya LGD bukanlah fitur yang ada sejak beasiswa LPDP dibuka tahun 2013 lalu. Saat itu, seleksi wawancara hanyalah berisi sesi wawancara. Barangkali.

Di hari wawancara, saya menyempatkan diri untuk mencetak lebih dari 30 lembar kertas di warnet. Kertas-kertas itu adalah data penunjang yang nanti akan saya gunakan saat berbicara. Bicara dengan data tentu akan membuat saya terlihat menguasai apa yang saya sampaikan, dan tidak terkesan mengada-ada.

Setelah tertunda hampir setengah jam, akhirnya saya masuk ke ruang wawancara. Saya mencoba santai dan menghampiri meja wawancara dengan percaya diri. Saya cukup kaget juga ketika ternyata salah satu pewawancara saya adalah dosen saya di UI. Sepertinya beliau berperan sebagai psikolog, karena selain beliau adalah psikolog, pewawancara yang lain lebih terlihat seperti ilmuwan. Bapak yang duduk di depan saya sudah agak tua dan selalu tersenyum, dan bapak yang di sebelah kanannya lebih muda. Dosen saya sendiri adalah seorang wanita.

Saya diminta memperkenalkan diri oleh bapak yang di tengah. Bapak ini adalah pewawancara yang paling banyak berbicara. Setelah memperkenalkan diri, saya diminta menjelaskan cita-cita saya dalam bahasa Inggris. Sepertinya saya kaget hingga akhirnya gugup, dan tidak bisa benar-benar menceritakan ambisi saya dengan lancar. Si bapak terlihat bingung. Mati.

EVALUASI KEEMPAT: Siapkan semua jawaban dalam bahasa Inggris.

Setelah memperkenalkan diri, saya juga ditanya tentang alasan ikut beasiswa LPDP. Jujur saya kurang siap dengan pertanyaan ini, meskipun sudah punya jawabannya. Jadi entah mengapa saya menjawab bahwa saya ikut LPDP karena 1) pembiayaan penuh, dan 2) karena LPDP sesuai dengan visi saya memajukan Indonesia. Saat ditanya seperti apa visi saya, saya terbata-bata.

EVALUASI KELIMA: Siapkan jawaban untuk pertanyaan tentang alasan. Juga versi bahasa Inggrisnya. Kan siapa tahu.

Saya tidak benar-benar ingat pertanyaannya secara rinci, tapi yang jelas, si bapak tengah banyak menggali tentang cita-cita saya. Beliau bertanya, misalnya, tentang di mana saya akan mengaplikasikan ilmu saya sekembalinya dari Inggris nanti. Dosen saya, sang terduga psikolog, bertanya tentang keluarga saya, tentang pengalaman organisasi, dan siapa ahli behavioral economics yang saya ‘anut’, dalam artian dibaca bukunya.

Nah, mengapa saya tidak berani menyimpulkan bahwa dosen saya berperan sebagai psikolog? Jawabannya adalah karena si bapak yang di sebelah kiri, yang menurut saya paling diam, bertanya pertanyaan-pertanyaan seperti (bukan kutipan langsung ya):

1) “Menurut kamu, gelar formal itu apa sih? [Maksud saya,] kamu kan orangnya tidak formal-formal banget, begitu. Apa makna gelar formal buat kamu? Bukannya kamu bisa belajar ilmu itu di mana saja?”
2) “Kalau kamu menjadi reviewer LPDP, kira-kira orang seperti kamu ini lolos, nggak?”

Buat saya sih, pertanyaannya seperti psikolog, hehehe. Ya selain itu, bapak ini juga bertanya, “Kalau kamu tidak kuliah di Inggris, kira-kira di mana?” Saya kira, ini maksudnya meminta saya memilih kampus lain yang lebih wah dari Warwick. Eh ternyata di ujungnya, beliau bilang, “Bukan, maksud saya, apakah di Indonesia tidak ada?” Halah.

Secara umum, saya sebenarnya puas dengan sesi wawancara ini, karena entah mengapa saya percaya bahwa saya cukup percaya diri. Ya ada bolongnya sih, tapi saya tetap menilai sesi wawancara dengan lebih positif dibanding sesi LGD. Beberapa pertanyaan saya jawab dengan keren seperti pertanyaan nomor satu dari si bapak pendiam: “Ya, saya adalah orang yang percaya bahwa ilmu bisa dipelajari di mana saja. Tujuan saya berkuliah bukan hanya untuk ilmu, tapi juga interaksi dengan ahli-ahli di bidang itu”. Ya kira-kira begitulah.

Sudah sih, itu saja evaluasinya. Secara umum, saya akui saya kurang persiapan, baik untuk LGD maupun wawancara.

Lalu, sekarang saya mau apa? Tentu saja, saya akan melamar sekali lagi. Mimpi saya belum dan tidak akan mati. Tapi saya butuh langkah pertama, dan itu adalah berbenah. Saya akan memperbaiki banyak sekali hal, termasuk esai Sukses Terbesar Dalam Hidupku dan Peranku Bagi Indonesia. Saya juga akan merancang jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul, dan menyiapkan versi bahasa Inggrisnya. Banyak hal. Banyak sekali.

Saya ingin siap, karena kesempatan itu hanya datang untuk mereka yang siap. Semoga kita semua jadi orang yang siap sukses!

Iklan

Cerita Cendikia

Pada suatu hari..

“Ah tidak,” gumam Cendikia. Ia tidak ingin memulai ceritanya dengan pembukaan yang biasa-biasa saja. Cerita ini jauh lebih hebat dari sekedar pada suatu hari. “Tapi apa ya?”

Cendikia adalah seorang pelajar. Ia sudah lulus kuliah, tapi tetap menganggap dirinya sebagai seorang pelajar. Baginya, belajar adalah proses yang berlangsung selama seumur hidup. Bangga sekali Cendikia dengan sikapnya ini, meskipun beberapa temannya tahu Cendikia hanya menirunya dari Pak Habibie yang dulu pernah merancang pesawat.

Pesawat Styrofoam yang di ujungnya harus diselipkan moncong plastik untuk meningkatkan aerodinamikanya. Sayang, kabarnya di New York sana material tersebut rencananya akan dicabut larangan beredarnya, Juli nanti. “Tapi ini masih awal bulan Maret, jadi mungkin aku bisa menjual banyak pesawat sebelum dilarang”, ujar Pak Habibie dalam hati. Ia bicara seakan dirinya adalah bandar pesawat terbang betulan, dan seakan dirinya ada di New York. Pak Habibie memang licik, tidak seperti adiknya, Surtinah.

Surtinah, tidak seperti Bibie, panggilan akrab kakaknya, tidak memilih berdagang sebagai jalur kariernya. Sebagai seorang perempuan, ia merasa lebih cocok bekerja sebagai seorang direktur utama di perusahaan tambang minyak multinasional yang berkantor pusat di Mesir. Bagi Tinah (panggilannya, meskipun tidak ada seorangpun memanggilnya seperti itu kecuali suaminya), menjadi direktur utama di perusahaan tambang minyak multinasional yang berkantor pusat di Mesir jauh lebih bermartabat daripada tidak menjadi direktur utama di perusahaan tambang minyak multinasional yang berkantor pusat di Mesir. Gajinya memang tidak besar, namun ia merasa bisa melakukan sesuatu untuk orang lain di pekerjaannya ini. Dan hal itulah yang membuatnya bertahan.

Sementara itu, Cendikia masih berkutat dengan pembukaan ceritanya. Sebagai seorang pencerita, ia tidak seharusnya terpaku dengan bagaimana ia harus membuka kisahnya. Seharusnya ia membiarkan isi kepalanya mengalir melalui cerita. Dalam hal ini Cendikia demikian salahnya, hingga Tantowi merasa kasihan dan mempersilahkan Cendikia untuk membawa pulang papan karton bertuliskan Rp1.000.000 ke rumah meskipun ia tidak berhasil menjawab satupun pertanyaan.

Melihat Cendikia yang tampak sedih, Pak Bibie menghampirinya.

“Cendikia”, panggilnya, “Apa yang ada di dalam pikiranmu, anak muda?”
Yang dipanggil terkaget, “Eh.. Anu..”
“Oh..”
“Lho, memangnya saya sudah bilang sesuatu, pak?”
“Belum”, kata Pak Bibie singkat, “Kenalkan, saya Habibie Said. Saya pemilik Habibie Industries, yang bergerak di sektor manufaktur pesawat terbang”
“Saya uhh.. Saya Cendikia..”

Ternyata masalah yang dihadapi Cendikia soal cara mengawali cerita demikian hebatnya, hingga ia tidak sadar bahwa Pak Bibie mengetahui namanya meskipun mereka belum pernah berkenalan. Sungguh sebuah pelajaran hidup yang amat penting: seberat apapun masalah yang dihadapi, jangan biarkan masalah itu mengganggu kehidupanmu. Sayang Cendikia tidak menyadari pelajaran berharga ini.

“Saya lihat kamu sedang menulis sesuatu”, Pak Bibie memecah keheningan.
“Saya juga melihat yang demikian”, Cendikia menimpali.
“Ya, sepertinya kamu memang sedang menulis sesuatu”.
“Benar. Saya pun memandangnya seperti itu”.
“Kamu menulis sesuatu. Saya yakin itu, nak”.
“Saya punya keyakinan yang sama dengan bapak”.
“Kalau dipikir-pikir, apa yang kamu lakukan sekarang ini adalah menulis”.
“Demikian halnya yang ada dalam pikiran saya”.

“Jangan terpaku dengan pembukaannya. Tulis saja”.
“Eh?”

Detik demi detik berlalu. Tidak terasa, sudah empat ratus tujuh kata berhasil ditebar Cendikia dalam ceritanya, hanya dalam beberapa menit. Kekaguman pun muncul pada sosok Pak Bibie. Ia ingin menjadi orang yang cerdas seperti Pak Bibie. Ia juga ingin membuat industries seperti Pak Bibie, tapi tentu dengan namanya sendiri.

Akhirnya cerita Cendikia selesai. Ia merasa bangga sekali, dan ingin segera ditunjukkannya ke teman-teman.

Beginilah cerita buatan Cendikia:

Di tengah kekalutan jiwa yang menyayat hati, Sofyan mengintai dua orang yang dicurigai atasannya sebagai pemasok narkotika bagi penghuni lembaga pemasyarakatan Titik Nadir, Kota Puncak Alor. Sofyan adalah seorang polisi muda (baik usia maupun posisinya di hierarki sosial satuannya) yang sebagaimana layaknya polisi kota Puncak Alor yang baru bergabung dalam sebuah satuan: bersemangat, bersih, dan tidak gendut. Beratnya hanya 65kg, cukup ideal bagi Sofyan yang bertinggi badan 178cm. Larinya juga cepat.

Meskipun bersih dan penuh semangat, Sofyan mengintai dua buruannya tadi dengan hati yang kalut. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah kenyataan bahwa dirinya mencurigai kedua orang tadi sebagai Wanda dan Siti, kedua wanita yang pernah diincarnya semasa kuliah di fakultas hukum dulu. Tentu mereka diincar Sofyan dalam konteks asmara, bukan yang lainnya.

Wanda, yang merupakan adik kelas Sofyan, tamat dari Fakultas Hukum Universitas Puncak Alor sebagai lulusan terbaik. Semasa kuliah dulu, Wanda aktif di berbagai kegiatan kemahasiswaan dan sering diminta pihak kampus untuk menjadi wakil dalam berbagai kompetisi moot court. Wanda juga dijagokan untuk menduduki jabatan sebagai ketua senat mahasiswa, bahkan sejak tahun keduanya. Tapi ia menolak semua tawaran untuk memimpin di berbagai lembaga karena ingin fokus dengan mimpinya. Menjadi ketua organisasi bukan merupakan bagian dari mimpi itu.

Lain Wanda, lain pula Siti. Wanita muda ini tidak menonjol dalam bidang apapun kecuali indeks prestasinya. Kalau saja ia satu angkatan dengan Wanda, mereka berdua mungkin akan sikut-sikutan untuk meraih gelar lulusan terbaik. Tapi Siti bukanlah seorang yang ambisius. Ia memilih untuk tetap menginjak tanah. Mungkin sikap itulah yang membuatnya tidak menonjol. Dibanding bergabung dengan organisasi kemahasiswaan, Siti lebih suka bergumul dengan buku dan penelitian.

Namun entah bagaimana, keduanya banting stirtidak, ini namanya banting mobilmenjadi kriminal.

Sofyan jatuh hati pada kedua wanita itu. Ia, yang biasa-biasa saja di sektor fisik maupun kognisi, merasa bingung untuk menentukan siapa yang pantas menjadi pengisi kesepian hatinya. Ia ingin mendapatkan keduanya, namun tentu saja hal itu tidak mungkin. Tapi ia ingin satu dan tidak ingin kehilangan yang lainnya. Setiap berada dekat secara fisik (misalnya ada dalam satu antrean) dengan Wanda, ia merasa kesempatannya untuk mendapatkan Siti berkurang. Begitupun sebaliknya.

Maka di sinilah Sofyan berdiri, menempelkan punggung tangannya ke tembok. Sesekali ia memantau kedua buruannya beraksi. Ia kalut, “Harus pilih yang mana?”

Sofyan tahu bahwa dalam kondisi ini, di mana kedua target operasi ada di tempat yang sama, menangkap keduanya bukanlah hal yang mudah. Apalagi ia sedang sendirian. Menangkap satu orang dan membiarkan yang satu lagi lepas adalah opsi terbaik. Kemudian Sofyan kembali teringat kegalauannya semasa kuliah. Bagaimana mungkin dilema yang dialaminya bertahun-tahun lalu kembali terjadi di saat sepenting ini?

Sofyan menunggu saat-saat terbaik. Ia harus menangkap keduanya. Harus.

Lalu ia menunggu, menunggu, menunggu.

Sofyan menunggu.

Lalu Wanda dan Siti menembak kepala mereka masing-masing.

Jika Ahok Lengser

Akhir-akhir ini banyak yang bicara soal Hak Angket Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) DKI Jakarta yang katanya mengusung misi untuk melengserkan Pak Ahok dari posisi gubernur. Saya tidak tinggal di Jakarta, sih, tapi karena isu ini sudah berskala nasional dan, menurut Fadli Zon dkk., namanya juga Jakarta, mungkin ada baiknya saya ikutan bicara (atau, dalam hal ini, menulis, yang sebenarnya secara teknis saya mengetik).

Katanya sih, DPRD DKI mengajukan hak angket untuk mengevaluasi kinerja Ahok yang dinilai menyalahi aturan. Di sisi lain, Ahok sedang berjuang untuk membuktikan bahwa ada pelanggaran juga yang dilakukan oleh beberapa pihak terkait anggaran daerah. Di sini, seakan ada perseteruan antara Ahok dan DPRD, macam film Hollywood: Ahok si politisi bersih melawan mafia anggaran yang termanifestasi dalam bentuk DPRD, yang main-main dengan duit rakyat lewat Badan Anggaran. Bertahun-tahun bergelimang kenikmatan mencatut hak rakyat, tiba-tiba diganggu oleh orang bener (dari luar daerah pula). Siapa yang tidak ingin orang itu jatuh?

Bagaimanapun, perseteruan ini mungkin ada, tapi mungkin juga tidak. Hanya saja, sebagai penggemar film, saya tentu berharap Ahok vs DPRD adalah situasi yang riil. Saya ingin Ahok dibantai dari segala lini, menderita batin hingga nyaris mati, hanya untuk kemudian membalikkan keadaan secara elegan. Jadi, jika semua ini benar terjadi, saya ingin Ahok menang.

Tapi bagaimana jika Ahok kalah, dan kemudian lengser?

Ah, itu mudah saja. Saya ingin bapak saya naik menggantikan Ahok. Minimal, saya tahu reaksi keduanya akan sama persis bila melihat ada orang yang seenaknya di jalan raya: “Dikira jalan punya nenek moyangnya, apa?!”

Belajar Sendiri

Seperti yang pernah saya laporkan di tulisan tentang angka 37, saya sedang dalam masa belajar mandiri. Tidak hanya terbatas pada matematika, saya pun (berencana) belajar tentang beberapa hal lain yang sekiranya akan berguna, terutama jika saya lolos seleksi Beasiswa Pendidikan Indonesia dari LPDP dan bisa melanjutkan kuliah di University of Warwick.

Mohon luangkan waktu 60 detik untuk mendoakan saya, apapun keyakinan kalian. Terima kasih banyak.

Lanjut. Jika saya berhasil lolos seleksi beasiswa dan lanjut kuliah, saya punya waktu sekitar 6 bulan untuk bersiap diri secara akademis. Perlu diketahui bahwa saya sudah lulus kuliah sejak tahun 2013, dan belum pernah bekerja sebagai pegawai di perusahaan manapun. Artinya, saya jauh dari dunia akademis dan otak saya banyak dianggurkan (tidak dalam arti sebenarnya). Akan sangat berbahaya bila saya dan otak saya tidak siap menerima gempuran ilmu nantinya. Pokoknya berbahaya deh, tidak usah banyak tanya.

Lalu, apa yang harus saya pelajari? Sebelum menjawab pertanyaan itu, saya harus beritahu dulu bahwa saya akan belajar di Coursera, sebuah situs web yang menyediakan bermacam-macam Massive Open Online Course (gampangnya: kelas online gratis). Oh ya, selain Coursera, ada juga yang namanya Khan Academy dan edX. Nah, kalau yang itu betulan gratis.

Eh, sampai di mana kita? Oh ya. Nah, karena saya hendak melanjutkan pendidikan di program MSc Behavioural and Economic Science, saya merasa perlu untuk ikut kelas-kelas sebagai berikut (tidak diurutkan berdasarkan apapun):

  • Writing in the Sciences (Stanford University)
    Sesuai namanya, di kelas ini saya akan belajar cara menulis ilmiah. Perlu dipelajari karena saya tidak pernah menulis ilmiah lagi sejak skripsi, dan membuat tulisan ilmiah tidak semudah membuat tulisan di blog. Di edX, saya mendaftar di kelas yang sepertinya serupa bernama Principles of Written English.
  • A Beginner’s Guide to Irrational Behavior (Duke University)
    Kelas favorit saya. Sudah pernah dua kali diambil tanpa pernah menyelesaikannya. Kelas ini adalah semacam pengantar behavioral economics (BE). Diajar oleh Dan Ariely, penulis tiga buku best seller tentang BE sekaligus salah satu ilmuwan favorit saya. Di edX, lagi-lagi ada kelas yang serupa: Behavioural Economics in Action.
  • Understanding Research Methods (University of London)
    Kelas ini dan kelas Writing di atas, bagi saya, adalah kelas-kelas ‘dasar’. Ya, saya harus menguasai metode riset. Perlu saya jelaskan alasannya?
  • Data Analysis and Statistical Inference (Duke University)
    Kelas ini seakan adalah kelas pendamping dari Research Methods, karena di UI dulu saya belajar Statistika dan Metode Penelitian dalam satu kuliah. Cetek ya alasannya.
  • Think Again: How to Reason and Argue (Duke University)
    Jujur, saya merasa berargumen adalah salah satu kelemahan terbesar yang saya miliki. Saya adalah orang yang cenderung tidak percaya diri dalam mengungkapkan pendapat, terutama ketika saya tidak terlalu menguasai apa yang sedang dibicarakan atau, yang lebih parah, takut salah. Oleh seorang teman yang sekarang sedang berkuliah di Belanda, ketepatan dalam berpikir dan berpendapat adalah salah satu kunci sukses seorang akademisi.
  • Game Theory dan Game Theory II: Advanced Applications (Stanford University dan The University of British Columbia)
    Game theory, bagi saya, adalah salah satu bidang kajian ‘standar’ dalam BE. Saat ini, saya bisa dibilang hampir buta tentang ilmu ini, yang merupakan situasi yang berbahaya.
  • Competitive Strategy (Ludwig-Maximilians-Universität München)
    Pada dasarnya kelas ini juga adalah kelas game theory. Saya tertarik pada kelas ini karena sepertinya lebih sederhana daripada dua kelas di atas. Kemaraan (progress) saya di kelas ini bahkan sudah sebanyak 5%.
  • Introduction to Mathematical Thinking (Stanford University)
    Ini yang paling penting. Saya sangat, sangat lemah di matematika. Lemah sekali. Tapi saya tidak ingin terus-terusan berada di kondisi itu. Saya sadar bahwa penguasaan matematika adalah wajib bagi seorang behavioral scientist. Meski begitu, saya tidak akan masuk ke kelas ini hingga saya cukup percaya diri dengan menguasai lebih banyak kemampuan dasar dan lanjutan matematika di Khan Academy (klik tautan pertama di tulisan ini).

Di luar kuliah, saya (melalui petuah teman dari Belanda tadi) juga ingin sekali menugasi diri saya sendiri untuk:

  • Membaca artikel-artikel jurnal tentang BE, terutama yang sudah ada di harddisk komputer saya. Tujuannya adalah agar saya terbiasa dengan hal tersebut (lagi).
  • Melakukan review terhadap artikel-artikel tadi, sehingga saya terlatih untuk berpikir kritis sekaligus mengasah kemampuan saya mengungkapkan argumentasi dalam bentuk tulisan. Saya menemukan sebuah blog keren yang bisa dijadikan acuan: dark side of the nudge.
  • Ditambahkan kemudian. (Karena dua poin kurang sreg di mata)

Ya, begitulah. Bagaimanapun, saya sadar bahwa kemampuan saya untuk bertahan pada rencana hampir setara dengan ikan kembung, sehingga mungkin tidak semua kelas dan tugas diri akan saya selesaikan 100%, meskipun pasti saya akan berusaha ke sana (karena katanya gantunglah cita-citamu setinggi langit-langit kamar). Tujuan saya hanyalah ingin menjadi lebih siap, kok, meskipun definisi siap saya adalah ‘menghancurkan ekspektasi bule-bule akan pelajar asal Indonesia’. Haha, ha. Sekali lagi, saya mohon doanya ya.

Istilah Bule Punya Indonesia

Akhir-akhir ini saya sering mendengar istilah lembaga super body. Istilah ini merujuk pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Lalu saya bertanya-tanya, apa itu lembaga super body?

Secara pribadi, saya kurang percaya dengan referensi di internet yang berbahasa Indonesia, apalagi jika istilah yang saya cari menggunakan bahasa Inggris. Jadilah saya mencari super body di Google. Hasilnya mengejutkan karena yang keluar adalah gambar lelaki-lelaki bertubuh atletis. Saya kecewa. Ah, mungkin kurang spesifik, pikir saya. Jadi saya tambahkan lah institution (lembaga) di belakang super body. Hasilnya? Saya makin kecewa.

Ternyata tidak ada entri berbahasa Inggris yang menjelaskan apa itu super body institution di halaman pertama Google. Yang ada malah ada artikel berbahasa Indonesia. Kalaupun berbahasa Inggris, yanulis tetaplah orang Indonesia. Bukannya saya meragukan kemampuan ahli lokal, tapi ini kan istilah bule, masak tidak ada satupun bule yang memberi penjelasan?

Agaknya, lembaga super body adalah istilah yang dibuat oleh orang Indonesia (atau setidaknya bukan oleh bule). Hal ini mirip dengan istilah post-power syndrome. Tidak ada satupun artikel ilmiah berbahasa Inggris tentang sindroma itu (ini lebih parah sih karena sudah masuk ranah ilmiah). Sebenarnya ada satu istilah lagi yang seperti ini, namun saya lupa.

Mengapa kita harus berlindung di balik istilah bule, sih? Apakah ini bentuk ketidakpercayaan diri? Apakah di negara lain yang tidak berbahasa Inggris juga melakukan hal ini? Apakah Kotaro akan berhasil mengalahkan monster kepiting? Tunggu episode berikutnya di stasiun-stasiun televisi kesayangan Anda.

Yang Saya Tidak Suka dari Isu Hukum

Saya bukan lulusan fakultas hukum dan secara umum tidak memiliki pengetahuan yang adekuat tentang hukum untuk memiliki opini (terutama yang keras) tentang dunia hukum.

369842_620

Tapi saya hidup di negara demokrasi, jadi seharusnya saya bisa bicara sesukanya, sebatas pengetahuan saya.

Oke, jadi begini. Saya baru saja dengar berita terbaru dari perkembangan kasus Komjen Budi Gunawan, dimana ada seorang saksi ahli yang menyatakan bahwa keputusan KPK untuk menetapkan sang Komjen sebagai tersangka korupsi tidak sah. Alasannya? KPK kurang orang. Menurut Romli Atmasasmita, si saksi ahli itu, putusan KPK tidak bisa diterima secara hukum karena dibuat oleh empat orang. Padahal, menurut undang-undang, KPK harus dipimpin oleh lima orang.

Inilah yang tidak saya suka dari hukum. Entah bagaimana, menyangkal kesahihan dari sesuatu di pengadilan bisa dilakukan dengan memunculkan flaw (entah apa bahasa Indonesianya, mungkin ‘celah’) di domain lain yang tidak berhubungan. Terkesan memaksa dan kekanak-kanakan bahkan.

Saya jadi ingat film Liar Liar yang dibintangi Jim Carrey. Dia berperan sebagai seorang pengacara yang akhirnya bisa memenangkan seorang istri dalam sidang hak asuh anak. Kala itu, klien Carrey sudah di ujung tanduk karena argumen suaminya sangat kuat bahwa istrinya tidak layak mengasuh anak (mengajak pria lain ‘bermain’ ke rumahnya, dan sebagainya). Meski begitu, di menit akhir, ia menemukan bahwa ternyata sang istri dulu menikah saat masih di bawah umur. Hal ini membuatnya menjadi pihak yang dirugikan, dan akhirnya menang.

Memang, apa yang dikatakan Romli sah dan benar. Mungkin putusan KPK tidak sah apabila hanya dibuat oleh empat orang. Tapi apakah hal ini mengurangi kekuatan bukti yang dimiliki KPK (jika ada dan kuat)? Bukti tentu berposisi lebih kuat dibanding alasan ‘komikal’ tentang kekurangan orang. Apakah tidak bisa didahulukan? Karena nantinya, jika ternyata bukti yang diajukan KPK tidak cukup, berapapun pembuat keputusannya, Budi Gunawan akan bebas ‘kan?

Saya tidak memihak KPK atau Budi Gunawan atau Inul Daratista. Saya memihak kebenaran. Dan ingat, saya bukan anak hukum!

Angka Magis Bernama 37

37

Saya sedang belajar matematika (di Khan Academy) untuk alasan yang tidak bisa saya jelaskan sekarang. Yang jelas, saya ‘menemukan’ sesuatu yang menarik ketika berusaha mengerjakan sebuah soal latihan.

Seperti yang bisa kita lihat di gambar di atas, saya sedang menghadapi soal pembagian 3256 : 37. Sebagai orang yang sudah lama tidak berurusan dengan pen and paper, saya kagok juga ketika menghadapi soal yang rumit (tidak bisa dikerjakan di dalam kepala) seperti ini. Jadilah saya coret-coret di kertas.

Saya pun melakukan apa yang orang yang tunamatematika biasa lakukan: menebak jawaban. Saya mencoba beberapa angka yang berakhiran 8 (karena akan menghasilkan bilangan berakhiran 6 jika dikalikan dengan bilangan berakhiran 7). Saya mulai dari 18, dan sedikit tersenyum ketika mendapat 666. Lalu entah mengapa saya mencoba 12, dan mendapat hasil 444. Di titik ini, pikiran liar saya langsung terbangun. Saya mencoba mengalikan 37 dengan 6 (karena 18 dan 12 berselisih 6; konyol memang), dan kembali terperanjat karena hasilnya 222. Mengikuti pola sebelumnya, saya kalikan 37 dengan 24, dan mendapat 888. Bagaimana dengan 30? Hasilnya 1110. Nyaris saja.

6 x 37 = 222
12 x 37 = 444
18 x 37 = 666
24 x 37 = 888

Saya terkesima, dan langsung berencana membagikan ‘temuan’ ini di blog. Tapi sebelumnya saya ingin mencarinya dulu di internet. Saya agak terkejut ketika menemukan bahwa bahkan di entri Wikipedia angka ini tidak ada pembahasan tentang fenomena ini. Namun kemudian saya melihat bagian External links di bawah, dan menemukan tautan ke video dari salah satu seri favorit saya di YouTube, Numberphile. Ada video berjudul “37: Just something fun”. Saya tidak kaget, sih, karena tim Numberphile memang adalah kumpulan matematikawan paling iseng di jagad maya.

Dan ternyata memang ada penjelasannya!