Jalan Bareng Jarvis di Jakartokyo

Jadi tadi sehabis subuh saya tidur lagi.

Terus mimpinya ternyata, meskipun cukup acak, tapi sangat keren. Saya ketemu dan jalan-jalan bareng Jarvis Cocker di Tokyo.

Mimpi dimulai saat saya melihat Jarvis dari kejauhan. Dia mengenakan kacamata lensa merah, dengan gaya jalan yang berantakan. Sepertinya mabuk.

jarvis-460x276

Saya tidak mau mengusiknya yang mungkin sedang liburan, jadi dari seberang jalan saja saya beranikan diri untuk menyapanya: “Mister Cocker, I love you!!”

MISTER COCKER I LOVE YOU!!!” saya teriak kedua kalinya.

JARVIS!!!” tiga. Akhirnya dia menoleh.

Saya tidak bisa menahan diri. Saya menyeberang jalan. Dia terlihat senang saya hampiri. Sepertinya.

Saya lupa apa kata-kata pertama yang saya ucapkan, yang jelas di saat itu juga saya memaksakan diri untuk melupakan agenda saya di Tokyo saat itu untuk jalan bareng Jarvis. Yang jelas saya saat itu senang sekali. Saya merangkul pundaknya, yang ternyata tidak lebih tinggi dari saya. Bahkan di mimpi saya menyadari ini.

Saya juga menahan diri untuk tidak mengajak swafoto dulu. Saya tahu sebagian selebriti lebih suka berinteraksi dengan penggemar yang menganggap mereka manusia.

Tapi Jarvis, saat itu, berbeda. Benar dugaan saya: dia mabuk berat.

Saya berusaha untuk mengajaknya bicara, dengan harapan ia tetap fokus dan saya mendapatkan pengalaman yang maksimal. Saya bertanya dalam bahasa Inggris, “apa yang membuat Anda tertarik mendatangi Indonesia; mendatangi negara saya?”

Nah lho. Jadi Tokyo ini ada di mana?

Saya tidak ingat Jarvis menjawab apa. Bahwa dia menjawab atau tidak saja saya tidak tahu. Tapi pembicaraan berlanjut, dan saya sadar saya banyak bertanya. Jarvis sepertinya menyadari juga, dan bilang bahwa bahasa Inggris saya terlalu cepat diucapkan. Tidak ada yang akan mengerti.

Saya berusaha memeperlambat bicara saya, dan ia masih berkomentar seperti tadi. Akhirnya saya panas. “Lah cara elu ngomong juga nggak banyak yang ngerti!” bentak saya, seakan membeberkan fakta, dalam bahasa Inggris.

Tiba-tiba saya mendapat telpon dari istri saya. Dia sedang makan steak (atau shabu-shabu?) di sebuah rumah makan besar. Saya tidak ingat nama lengkapnya, namun sepertinya mengandung kata metal. Istri saya bilang, saya sudah ditunggu. Ah, mungkin itulah agenda asli saya di sini.

Tapi di tengah pembicaraan, Jarvis melakukan sesuatu yang luar biasa.

Ia menyeberang jalan dengan cepat. Mendekati sebuah gerobak ramen, dan mengambil—mencuri—tempura di atas ramen yang sudah jadi (yang sebenarnya lebih terlihat seperti makanan contoh). Saya, masih sedang sibuk di telepon, langsung setengah berteriak. Saya lupa apa yang saya teriakkan, sih.

Saya memburu ke arah gerobak ramen. Saya tarik Jarvis menjauhi gerobak itu. Saya langsung berkata pada pedagangnya bahwa saya akan ganti.

“Lima belas ribu,” kata pedagang ramen pada saya, dengan tampang kesal sekaligus ketakutan. Saya merogoh kocek. Wajah saya pucat. Dompet saya tidak ada. Padahal saya ingat ada lima puluh ribuan di situ.

Jarvis masih asyik makan tempura, sepertinya.

Saya mengecek jaket yang tadi saya lepas. Alhamdulillah ada dompetnya. Saya ambil lima puluh ribu, lalu saya berkan pada si pedagang. Ia pun menyerahkan kembalian.

Saya menunggu. Saya menunggu, lalu bilang, “Oh iya, gorengannya itu diganti ya. Saya kira saya dapat lagi.”

Bodoh nggak ketulungan.

Saya dan Jarvis lalu melanjutkan perjalanan. Saya mengajak Jarvis makan di restoran bernama metal itu, dan ia terlihat sangat antusias. Mungkin karena ia musisi. Entahlah.

Tapi saya memberi syarat padanya: ia harus bisa menjaga perilakunya. Ia harus menjadi orang yang, dan ini kutipan langsung dari diri sendiri, “capable of self regulation.”

Sekarang orang yang melihat kami akan melihat kami seperti bocah dan pengasuhnya. Lalu Jarvis membuka celananya (untungnya masih ada celana lagi di dalam). Astaga. Saya marahi. Ia pakai lagi itu celana.

Lalu entah bagaimana, adegan pindah dan kami sedang dalam posisi habis mandi. Hanya mengenakan handuk, kami menyusuri rumah makan metal dengan tangga. Sekarang, dari dalam, rumah makan ini terlihat seperti rumah nenek saya.

Ketika menghampiri sebuah pintu, Jarvis, yang sudah sober setelah mandi, bertanya, “Yakin ini ruangannya?”

“Iya lah, pintunya kamar nenek gua juga begitu.”

Iklan

Kemeja Jimi

Hari ini Jimi mulai bekerja di kantornya yang baru.

“Jim, selamet yeeee!!!!! Jangan lupa ntar tanggal 1 traktir2 guaaa!!!”

Begitu bunyi pesan singkat dari Andi, 25 tahun, pengangguran merangkap sahabat karib Jimi selama kuliah. Jimi agak tersinggung juga, karena yang dia tahu, cuma buruh pabrik di daerah pinggiran yang gajian setiap tanggal 1. Lagipula siapa sih yang masih kirim SMS jaman sekarang?

Kantor baru Jimi tidak lebih besar dari kantor lamanya.

“Ah, siapa pula yang peduli ukuran kantor,” gumam Jimi. Kenyataan bahwa hal pertama yang ia lakukan adalah membandingkan ukuran fisik kantornya seperti tidak lagi disadari. Kasihan.

“BERISIK LU!!! IDUP IDUP GUA GAUSAH BANYAK BACOTTTTT!!!”

Jimi terkaget. Di depannya ada seorang bapak-bapak sedang berbicara sendiri. Ah, nampaknya ia marah-marah ke orang malang di seberang sana, karena bapak itu mengenakan earphone. Earphone sebelah yang bentuknya seperti daun telinga itu. Yang kabelnya begitu pendek sehingga handphone harus tetap didekatkan ke kepala. Hilang makna.

Jimi melewati bapak tadi. Ia berjalan menuju ke ruang HR.

Sesampainya di depan pintu ruang tujuannya, Jimi terdiam. Ia memperhatikan sesuatu yang amat menarik hatinya melalui celah pintu. Bukan celah juga sebenarnya, karena ada dua lubang kaca vertikal di pintu tersebut.

Ada sebentuk kemeja berwarna merah tua tergantung di hanger, di sebuah lemari di dalam ruang HR. Singkat cerita kemeja itulah yang membuat Jimi mengakhiri petualangannya mencari kerja selama dua bulan.

Bersambung ke bagian dua.

Jump

“I have done this before, aren’t I?”

It is hard to recall when, but everything Sunu sees now has been there before. He is standing on the edge of a cliff, with no shirts on. His shoes has worn off, and is as messy as his hair. From where he is, he can see almost all the trees in a nearby forest, and he can hear the sea roars below. It is an insanely familiar situation.

“Did I jump?”

He looks down, and the familiarity is still there. He can see water splashes to giant rocks down there.  If Sunu jumped before, he must be dead now. So he pinches his arm, and it hurts.

And it is familiar.”What is this?”Sunu closes his eyes. He takes a deep breath. Twice. Three times. Four times. Then nothing.Sunu stops breathing.”This is a life not worth living”, he says.And he jumps.

Yang Sedang Dikerjakan

Entah mengapa berkeinginan untuk menulis.

Beberapa hari yang lalu saya membeli Post-It yang bentuknya persegi panjang kecil. Saya ingin membuat semacam reminder yang bisa ditempel di laptop. Sejauh ini sudah ada tujuh persegi panjang kecil-kecil yang bertengger di depan muka saya setiap kali membuka laptop.

Apa saja yang saya kerjakan?

Pertama dan yang paling utama adalah LPDP, dong. Tenggat waktu pengumpulan berkas adalah 27 April mendatang. Sepertinya saya harus memundurkan tanggalnya jadi 20, agar tidak ada ruang untuk bermalas-malas. Sampai saat ini saya masih dalam proses menulis ulang esai. Saya juga sedang banyak membaca literatur terkait bidang studi saya nanti. Alasannya sederhana sih, agar saya benar-benar tahu apa yang harus saya lakukan setelah kuliah nanti. Saya juga sudah merencanakan untuk menulis tentang rencana tersebut di blog ini.

Oya, simak juga tulisan saya untuk mempersiapkan lamaran LPDP kedua.

Lalu ada Jakarta Urban Challenge. Buat yang belum tahu, Jakarta Urban Challenge adalah acara yang diadakan oleh sebuah organisasi internasional bernama New Cities Foundation. Saya juga kurang paham sih apa yang dilakukan organisasi tersebut, tapi rencananya tahun ini akan ada seminar besar tentang perkotaan yang bertempat di Jakarta. Ada Pak Ahok, lho.

Nah, Urban Challenge itu sendiri adalah semacam sayembara. Intinya, mereka menantang penduduk Indonesia, khususnya Jakarta, untuk memberi ide-ide terbaik dalam menyelesaikan masalah transportasi di ibukota tercinta ini. Saya tertarik untuk ikut sayembara ini, karena salah satu dimensi yang diminta solusinya adalah safety and accessibility, yang bagi saya psikologi banget. Tenggatnya tiga hari setelah LPDP, yaitu 30 April.

Selanjutnya ada proyek riset dengan University of Warwick. HA?! Ya, saya bukan asal ketik kok. Jadi, dulu sekali, di tahun 2013, tiga orang dosen saya berangkat ke Inggris untuk mengunjungi beberapa universitas di sana, salah satunya adalah Warwick. Mereka membawa misi kerjasama riset, dan Warwick adalah kampus yang paling antusias menyambut ide tersebut.

Ingat Profesor Nick Chater? Beliau adalah ‘perwakilan’ dari Warwick yang antusias itu. Singkat cerita, Prof. Chater dan seorang dosen saya berencana untuk melakukan riset. Sayangnya, karena keduanya sama-sama sibuk, rencana tersebut terbengkalai.

Fast forward ke beberapa hari yang lalu, saya ditawarkan untuk terlibat dalam penelitian ini. Buat saya, ini kesempatan yang bagus untuk belajar dan kembali mendekatkan diri dengan dunia riset. Di sisi lain, dengan terlibat dalam riset berskala internasional seperti ini, saya bisa memoles CV. Hehehe.

Saya belum tahu banyak soal rencana riset ini, apalagi tenggat-tenggatnya. Tapi saya sudah mulai membaca salah satu artikel jurnal yang akan dirujuk nantinya.

Lanjut. Saya tidak ingat sudah pernah menulis ini atau belum, tapi sepertinya sih belum. Salah satu persyaratan yang saya penuhi untuk memenuhi conditional offer dari Warwick (iya, saya sudah daftar dulu sekali) adalah memperbaiki nilai IELTS. Waktu saya mendaftar, sebenarnya skor overall-nya sudah mencukupi. Sayang, ada satu subskor yang terlalu rendah untuk jurusan saya. Untuk itu, tanggal 14 Maret lalu saya ikut iELTS lagi, dan alhamdulillah sekarang sudah memenuhi syarat. Ya, Post-It berikutnya adalah soal mengirim berkas-berkas yang diminta Warwick untuk mendapatkan unconditional offer.

Masih dari Warwick, dua hari yang lalu saya mendapat email dari Warwick International Office. Isinya adalah pengumuman bahwa International Office akan mengadakan sesi tanya jawab antara calon mahasiswa dan mahasiswa. Standar sih, masalahnya adalah mereka akan menghubungi calon mahasiswanya lewat telepon! Untungnya saya bisa memilih untuk tidak dihubungi lewat telepon, dan memilih live chat. Seperti yang kita semua tahu, salah satu kekuatan terbesar chatting adalah kita punya waktu yang banyak untuk berpikir, dan bisa merevisi apa yang ingin kita ucapkan. Keunggulan yang amat penting bagi orang seperti saya. Sesi live chat akan dibuka dari tanggal 13 hingga 18 April.

Dan terakhir, saya sudah memplot sebuah cerpen untuk dipublikasikan dalam waktu (yang relatif) dekat.

Mengurus STNK Hilang: Sebuah Curhat

Saya mau cerita sedikit. Kemarin (26/3), saya mengurus STNK motor yang hilang di Samsat Jakarta Selatan. Tidak, STNK saya tidak hilang di Samsat. Ya paham lah ya. Tapi, karena saya sedang malas menulis tapi tetap ingin cerita, saya buat ceritanya dalam bentuk poin saja. Ini dia.

1. Saya berangkat lumayan pagi, jam 8 lewat.

2. Selain STNK hilang, saya juga mau urus mutasi STNK tersebut, dari Jaksel ke Tangerang Selatan.

3. Ternyata Samsat Jaksel satu komplek dengan Polda Metro Jaya. Setidaknya begitulah pemahaman saya.

4. Parkiran motornya juga luas.

5. Saya masuk ke gedung Samsat dan bingung. Inilah potret buruknya pelayanan masyarakat di Indonesia. Masyarakat yang belum pernah sekalipun mengurus surat di Samsat ini harus bertanya ke satpam (atau bagian informasi) untuk mengetahui harus apa di mana. Tidak ada informasi yang jelas tentang fungsi masing-masing loket yang ada. Semua seadanya.

6. Saya diputar-putar. Menurut satpam, untuk mengurus mutasi saya harus ke gedung biru yang saya lupa namanya. Oke saya ke sana. Sesampainya di sana, saya diberitahu oleh polisi yang berjaga bahwa urus mutasi bisa meskipun STNK hilang. Saya disuruh ke lantai dua. Di lantai dua, ternyata saya harus membuat berita acara, dan itu dilakukan di gedung Samsat. Petugas juga tidak ramah.

7. Kembali ke gedung Samsat, saya bertanya pada satpam lagi tempat membuat berita acara. Ternyata ada di loket pojok. Oke saya ke sana. Sesampainya di sana, saya malah disuruh ke loket ujung satunya lagi untuk apa saya lupa. Sesampainya di sana, ternyata saya harus lapor pajak atau apa saya lupa, di loket Bank DKI di tengah. Setelah itu saya ke basemen untuk mengurus sesuatu lagi, baru kembali ke loket pojok (kedua), lalu kembali ke loket berita acara.

8. Di loket berita acara, ternyata petugas minta fotokopi kartu keluarga karena STNK yang diurus adalah atas nama ayah saya. Dua jam sia-sia.

9. Akhirnya saya memutuskan pulang saja. Di parkiran motor, saya menyadari bahwa helm saya sudah tidak di tempatnya.

10. Saya bertanya pada penjaga penitipan helm, nihil. Saya bertanya pada polisi jaga, dan ditawarkan helm bekas yang ternyata juga tidak ada. Bayangkan, helm saya hilang di kantor polisi.

11. Saya pun terpaksa ke Pasar Bendungan Hilir karena kata salah satu polisi ada yang jual helm di sana. Sampai di sana, saya bertanya pada tukang duplikat kunci. Katanya ada yang jual helm di dekat Mess Polwan. Harus naik bemo. Ya sudah saya nurut karena sudah lelah sekali. Terbeli lah helm pinggir jalan seharga 170 ribu. Saya kembali ke Samsat naik TransJakarta dan pulang.

Sudah ya itu saja. Saya benar-benar iri nih dengan sistem informasi public service di Inggris Raya.

Tentang Radikalisme Dalam Buku Agama Kelas XI

Akhir pekan lalu, dunia pendidikan Indonesia dibuat heboh oleh sebuah buku. Buku pelajaran Agama Islam. Katanya, buku tersebut memuat ajaran radikal. Saya sendiri tahu dari acara bincang bagi di sebuah televisi swasta, dan tidak begitu tahu akar masalahnya, meskipun mengikuti diskusinya.

Malamnya, saya membaca artikel di laman majalah Tempo terkait isu ini. Menurut artikel tersebut, si buku menjadi masalah karena, “di dalamnya menyebutkan orang yang tidak menyembah Allah bisa dibunuh karena kafir.” Oke lah, angguk saya dalam hati. Tempo juga memuat reaksi Mendikbud Anies Baswedan: “Saya saja sampai kaget membaca isinya”.

Menteri Anies rupanya menilai kejadian ini sebagai sebuah ketidaksengajaan. Ia menganggap ada keburu-buruan dalam penyusunan buku tersebut. “Ini contoh bila buku ditulis secara tergesa-gesa dan belum disiapkan dengan baik. Akhirnya kualitas buku yang dikompromikan. Sebanarnya itu tidak boleh,” kata Pak Menteri.

Saya pun penasaran dan memutuskan untuk membaca sendiri buku bermasalah itu. Tahu sendiri kan sekarang sudah susah menyaring informasi. Berbekal informasi dari artikel Tempo tadi, saya langsung googling dengan kata kunci “Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas XI SMA” (PAIDBPKXS),  sesuai dengan judul bukunya.

Google memberitahu saya bahwa buku yang saya cari ada di laman Buku Sekolah Elektronik milik Kemendikbud. Sayangnya, ternyata berkas buku tersebut sudah tidak ada. Mungkin segera dihapus untuk menekan persebaran. Tapi ya namanya barang gratis, apalagi tidak bisa habis, pasti ada pihak lain yang punya. Benar saja, akhirnya saya berhasil mengunduh buku PAIDBPKXS di sebuah blog.

Saya langsung menuju ke halaman 178, yang menurut Tempo adalah tempat kalimat yang bermasalah tersebut bersemayam. Ternyata ya, memang ada!

Yang boleh dan harus disembah hanyalah Allah Swt., dan orang yang menyembah selain Allah Swt. telah menjadi musyrik dan boleh dibunuh.

Lalu, apakah dengan ditemukannya kalimat di atas masalah selesai? Oh tentu tidak. Saya harus tahu mengapa kalimat tersebut sampai ada di sana. Ternyata, kalimat di atas adalah satu dari sekian poin dari buah pikiran seorang tokoh pemikir Islam modern bernama Muhammad bin Abdul Wahab. Beliau ini dianggap sebagai pendiri aliran Wahabiyah, yang memang dikenal ‘garis keras’ seperti itu. Pada intinya, akhirnya saya paham bahwa kalimat bermasalah tadi muncul karena ‘memang harus begitu’. Karena sedang membahas tokoh pemikir, bukankah wajar bila buah pikirannya disampaikan?

Apakah masalah sudah selesai? Belum juga! Bagi saya, perlu ada kajian ulang tentang materi pemikir Islam modern ini; apakah memang benar-benar perlu? Apakah anak kelas XI SMA sudah cukup dewasa untuk berhadapan dengan pemikiran yang berbeda-beda? Agama adalah sistem nilai yang menuntun pemeluknya menjalani kehidupan dengan benar. Pemahaman ilmu agama dengan salah tentu akan membuat jalan hidup seseorang jadi salah juga, bukan? Hal ini jadi penting karena 1) bagi orang tersebut, urusannya surga dan neraka, dan 2) bagi orang di luar agamanya, ini soal etika.

Tapi kalau ternyata memang perlu ya silahkan, saya tidak menentang. Bukankah menuntut ilmu, terutama ilmu agama, itu wajib? Hanya saja, karena seperti yang sudah saya sebutkan tadi, belajar agama harus dengan cara yang benar. Apakah buku Agama di sekolah cukup? Kemungkinan besar tidak, kan? Selain itu, yang namanya belajar, seseorang butuh orang lain yang lebih paham. Guru di sekolah pun mungkin belum tentu kompeten, apalagi harus mengajar sekian ratus anak yang pemahamannya pasti berbeda-beda.

Saya juga mencoba melihat masalah ini dari sisi lain, yaitu penggunaan bahasa. Menurut saya, kalimat yang bermasalah itu mungkin jadi bermasalah karena mengandung frasa ‘boleh dibunuh’. Coba bandingkan bila frasa tersebut tidak ada, sehingga kalimat akan berhenti di ‘..telah menjadi musyrik’. Jauh lebih baik kan?

Itu saja sih dari saya. Mudah-mudahan bermanfaat dan mohon maaf bila ada kekeliruan.

Soal LPDP

Kemarin, 10 Maret 2015, adalah hari pengumuman hasil seleksi beasiswa LPDP gelombang kedua. Singkatnya, saya tidak lolos seleksi di periode ini. Tapi saya tidak berpikir untuk menyerah karena menyerah adalah perbuatan pelaku calon narapidana (kalau belum menyerahkan diri kan namanya buron. Lah, jadi?!). Di kesempatan ini, saya ingin melakukan refleksi. Yah, siapa tahu berguna buat teman-teman yang berencana melamar LPDP juga.

Oh ya, perlu diingat bahwa sekarang LPDP membolehkan peserta yang keberhasilannya tertunda untuk langsung melamar lagi (tidak perlu menunggu sampai enam bulan). Syaratnya, lamaran kedua itu adalah kesempatan terakhir yang bisa diberikan LPDP. Sepertinya sih karena makin ke sini, beasiswa LPDP jadi semakin laris.

Seleksi Administrasi

Lanjut. Oke, refleksi. Selama proses pelamaran beasiswa, saya sudah menjalani dua tahap seleksi, yaitu seleksi administrasi dan seleksi wawancara. Seleksi administrasi bisa saya lewati dengan nyaris sempurna. Mengapa nyaris? Karena ternyata masih ada dokumen yang salah saat saya menyerahkannya ke panitia. Dokumen itu adalah surat pernyataan (yang ada materainya itu lho). Saya seharusnya menulis University of Warwick di kolom universitas, bukan Universitas Indonesia. Yah, mana saya tahu kalau kolom itu harus diisi dengan universitas tujuan. Tapi karena kesalahannya dianggap kecil (dan ternyata yang melakukannya juga lumayan banyak), saya bisa menggantinya.

Seleksi Wawancara: LGD

Selesai masalah administrasi, di hari yang sama, saya dijadwalkan untuk mengikuti subtahap seleksi wawancara: leaderless group discussion atau biasa disebut sebagai LGD. Pengalaman saya kurang baik sih di tahap ini, karena sepanjang observasi saya, hampir semua kelompok LGD sudah kumpul dan mengobrol. Artinya, mereka sudah cukup saling kenal. Saya? Saya baru bertemu separuh anggota kelompok kira-kira 15 menit sebelum masuk ruangan. Salah saya juga sih tidak aktif mencari (tapi sebelumnya saya sudah menghubungi salah satu teman kelompok melalui Facebook, namun tidak berbalas).

Tidak lekatnya hubungan antaranggota kelompok seakan ‘menghukum’ kami di ruang diskusi. Kami jadi tidak bisa menentukan mau seperti apa diskusi berjalan. Semua orang seakan berdiskusi dengan orang yang sama sekali asing (memang sih), padahal di situ kami seharusnya berperan sebagai kumpulan orang yang lebih saling kenal.

Jadi, sampailah kita pada EVALUASI PERTAMA: sebisa mungkin, agresiflah menemukan teman sekelompok diskusi. Bangun hubungan dengan saling berkenalan dan berdiskusi. Atau sekedar mengobrol. Ya pokoknya kenalan lah.

Topik yang dibahas adalah soal pendidikan. Dari pengalaman saya membaca blog orang lain, sepertinya hanya ada dua topik yang dilemparkan oleh LPDP, yaitu pendidikan dan Minerba. Sepertinya, lho. Dan sepertinya artikel yang dibahas dicatut dari Kompas. Tapi, lagi-lagi, sepertinya lho, karena saya tidak begitu ingat. Di sinilah kesalahan saya yang berikutnya: tidak membaca soal pendidikan atau Minerba, dan tidak baca koran Kompas. Saya lebih banyak membaca berita lewat portal berita di Internet, dan hanya mengikuti perkembangan berita yang sedang tren (waktu itu soal Budi Gunawan).

EVALUASI KEDUA: baca koran Kompas (atau koran lain yang populer dan relatif terpercaya). Ya, itu saja, karena belum tentu topik yang keluar adalah pendidikan atau Minerba. Tapi tidak ada salahnya juga memberikan porsi lebih pada topik itu.

Di dalam ruangan, kami diminta untuk duduk melingkari meja (persegi), membentuk huruf ‘U’ yang ujungnya tidak melengkung, dengan bagian yang terbuka menghadap ke arah barat. Posisi duduk ditentukan dengan panggilan. Maksudnya, nama yang dipanggil pertama diminta duduk di kursi pertama (di ujung kanan huruf ‘U’), begitu seterusnya hingga nama terakhir yang duduk di ujung kiri ‘U’.

Saya sendiri kebagian duduk di kursi ketiga dari awal. Kami mendapat paket diskusi berupa artikel dan kertas kosong. Oh ya, bawa pulpen sendiri.

Setelah diminta membaca artikel selama lima menit, kami dipersilahkan untuk berdiskusi. Oh ya, ada dua orang LPDP yang memonitor jalannya diskusi. Bagi orang seperti saya, berada dalam pengawasan yang live dan konstan seperti ini membuat saya cemas (bakat maling sepertinya). Maaf. Oke, jadi ternyata, anggota kelompok yang duduk di kursi nomor satu memutuskan cara berjalannya diskusi dengan cukup brilian: semua mendapat giliran berbicara satu-persatu, dimulai dari dia. Brilian.

Ada dua alasan. Brilian karena cara ini memunculkan keadilan bagi setiap anggota; semua dapat kesempatan bicara. Brilian, karena itu artinya saya dapat giliran bicara ketiga. Ingat kecemasan yang saya alami tadi? Oh, efeknya sungguh luar biasa karena saya tidak bisa fokus membaca artikel. Sekali lagi, brilian.

Dalam diskusi ini, kami diminta untuk memberikan solusi atas sebuah masalah di dunia pendidikan pada menteri pendidikan, dan boleh menentukan akan bentuk kelompoknya: apakah heterogen (terdiri dari beberapa latar belakang pekerjaan) atau homogen (satu latar belakang, misalnya aktivis). Kelompok kami memutuskan untuk hetero. Saya memilih menjadi ilmuwan.

Diskusi dimulai, dan anggota pertama dan kedua sudah menyampaikan pendapat awal mereka. Tibalah giliran saya. Mati. Mati karena apa yang mau saya katakan sudah diembat oleh mereka berdua. Sungguh sistem yang brilian! (Tapi saya tidak menaruh dendam atau apa lho, sama si anggota pertama, hehe). Namun saya berpikir cepat. Sayangnya, pikira cepat saya menuntun saya pada perilaku ngeles. Saya pun meminta anggota sebelah saya, si nomor empat, untuk berbicara duluan. Lagaknya sih seakan seperti menjadi perangkum, padahal sebenarnya saya sedang sibuk mikir.

Singkat cerita, saya mati kutu. Saya berbicara sekitar tiga kali di forum itu, dan tidak semuanya benar-benar berisi. Tapi meskipun kelompok saya kurang kohesif, saya melihat adanya upaya mereka, yang sepertinya sadar akan kematikutuan saya, untuk memasukkan solusi saya sebagai salah satu solusi kelompok. Terima kasih, teman-teman! :)

EVALUASI KETIGA: fokus pada saat membaca artikel. Gunakan kertas kosong yang disediakan untuk membuat mindmap atau analisis-analisis tentang artikel tersebut. Pikirkan pendapat dan solusi sekaligus di sesi ini, karena itulah yang nanti akan dibicarakan di forum. Gunakan waktu lima menit ini sebaik mungkin! Oh ya, kalau ada sisa tempat, jangan memakainya untuk membuat komik. Meskipun komiknya bagus, saya kira sisa tempat itu lebih baik digunakan untuk mencatat omongan teman-teman sekelompok. Lumayan kan, dapat nilai tambah karena bisa jadi notulis. Tapi tentu saja peran ini hanya bisa dicapai jika kalian tidak panik seperti saya.

Seleksi Wawancara: ..Wawancara

Besoknya, saya menjalani bagian kedua seleksi wawancara, yaitu wawancara. Kenapa sih namanya seleksi wawancara, kalau isinya bukan hanya seleksi wawancara? Mungkin ini karena sebenarnya LGD bukanlah fitur yang ada sejak beasiswa LPDP dibuka tahun 2013 lalu. Saat itu, seleksi wawancara hanyalah berisi sesi wawancara. Barangkali.

Di hari wawancara, saya menyempatkan diri untuk mencetak lebih dari 30 lembar kertas di warnet. Kertas-kertas itu adalah data penunjang yang nanti akan saya gunakan saat berbicara. Bicara dengan data tentu akan membuat saya terlihat menguasai apa yang saya sampaikan, dan tidak terkesan mengada-ada.

Setelah tertunda hampir setengah jam, akhirnya saya masuk ke ruang wawancara. Saya mencoba santai dan menghampiri meja wawancara dengan percaya diri. Saya cukup kaget juga ketika ternyata salah satu pewawancara saya adalah dosen saya di UI. Sepertinya beliau berperan sebagai psikolog, karena selain beliau adalah psikolog, pewawancara yang lain lebih terlihat seperti ilmuwan. Bapak yang duduk di depan saya sudah agak tua dan selalu tersenyum, dan bapak yang di sebelah kanannya lebih muda. Dosen saya sendiri adalah seorang wanita.

Saya diminta memperkenalkan diri oleh bapak yang di tengah. Bapak ini adalah pewawancara yang paling banyak berbicara. Setelah memperkenalkan diri, saya diminta menjelaskan cita-cita saya dalam bahasa Inggris. Sepertinya saya kaget hingga akhirnya gugup, dan tidak bisa benar-benar menceritakan ambisi saya dengan lancar. Si bapak terlihat bingung. Mati.

EVALUASI KEEMPAT: Siapkan semua jawaban dalam bahasa Inggris.

Setelah memperkenalkan diri, saya juga ditanya tentang alasan ikut beasiswa LPDP. Jujur saya kurang siap dengan pertanyaan ini, meskipun sudah punya jawabannya. Jadi entah mengapa saya menjawab bahwa saya ikut LPDP karena 1) pembiayaan penuh, dan 2) karena LPDP sesuai dengan visi saya memajukan Indonesia. Saat ditanya seperti apa visi saya, saya terbata-bata.

EVALUASI KELIMA: Siapkan jawaban untuk pertanyaan tentang alasan. Juga versi bahasa Inggrisnya. Kan siapa tahu.

Saya tidak benar-benar ingat pertanyaannya secara rinci, tapi yang jelas, si bapak tengah banyak menggali tentang cita-cita saya. Beliau bertanya, misalnya, tentang di mana saya akan mengaplikasikan ilmu saya sekembalinya dari Inggris nanti. Dosen saya, sang terduga psikolog, bertanya tentang keluarga saya, tentang pengalaman organisasi, dan siapa ahli behavioral economics yang saya ‘anut’, dalam artian dibaca bukunya.

Nah, mengapa saya tidak berani menyimpulkan bahwa dosen saya berperan sebagai psikolog? Jawabannya adalah karena si bapak yang di sebelah kiri, yang menurut saya paling diam, bertanya pertanyaan-pertanyaan seperti (bukan kutipan langsung ya):

1) “Menurut kamu, gelar formal itu apa sih? [Maksud saya,] kamu kan orangnya tidak formal-formal banget, begitu. Apa makna gelar formal buat kamu? Bukannya kamu bisa belajar ilmu itu di mana saja?”
2) “Kalau kamu menjadi reviewer LPDP, kira-kira orang seperti kamu ini lolos, nggak?”

Buat saya sih, pertanyaannya seperti psikolog, hehehe. Ya selain itu, bapak ini juga bertanya, “Kalau kamu tidak kuliah di Inggris, kira-kira di mana?” Saya kira, ini maksudnya meminta saya memilih kampus lain yang lebih wah dari Warwick. Eh ternyata di ujungnya, beliau bilang, “Bukan, maksud saya, apakah di Indonesia tidak ada?” Halah.

Secara umum, saya sebenarnya puas dengan sesi wawancara ini, karena entah mengapa saya percaya bahwa saya cukup percaya diri. Ya ada bolongnya sih, tapi saya tetap menilai sesi wawancara dengan lebih positif dibanding sesi LGD. Beberapa pertanyaan saya jawab dengan keren seperti pertanyaan nomor satu dari si bapak pendiam: “Ya, saya adalah orang yang percaya bahwa ilmu bisa dipelajari di mana saja. Tujuan saya berkuliah bukan hanya untuk ilmu, tapi juga interaksi dengan ahli-ahli di bidang itu”. Ya kira-kira begitulah.

Sudah sih, itu saja evaluasinya. Secara umum, saya akui saya kurang persiapan, baik untuk LGD maupun wawancara.

Lalu, sekarang saya mau apa? Tentu saja, saya akan melamar sekali lagi. Mimpi saya belum dan tidak akan mati. Tapi saya butuh langkah pertama, dan itu adalah berbenah. Saya akan memperbaiki banyak sekali hal, termasuk esai Sukses Terbesar Dalam Hidupku dan Peranku Bagi Indonesia. Saya juga akan merancang jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul, dan menyiapkan versi bahasa Inggrisnya. Banyak hal. Banyak sekali.

Saya ingin siap, karena kesempatan itu hanya datang untuk mereka yang siap. Semoga kita semua jadi orang yang siap sukses!