Jalan Bareng Jarvis di Jakartokyo

Jadi tadi sehabis subuh saya tidur lagi.

Terus mimpinya ternyata, meskipun cukup acak, tapi sangat keren. Saya ketemu dan jalan-jalan bareng Jarvis Cocker di Tokyo.

Mimpi dimulai saat saya melihat Jarvis dari kejauhan. Dia mengenakan kacamata lensa merah, dengan gaya jalan yang berantakan. Sepertinya mabuk.

jarvis-460x276

Saya tidak mau mengusiknya yang mungkin sedang liburan, jadi dari seberang jalan saja saya beranikan diri untuk menyapanya: “Mister Cocker, I love you!!”

MISTER COCKER I LOVE YOU!!!” saya teriak kedua kalinya.

JARVIS!!!” tiga. Akhirnya dia menoleh.

Saya tidak bisa menahan diri. Saya menyeberang jalan. Dia terlihat senang saya hampiri. Sepertinya.

Saya lupa apa kata-kata pertama yang saya ucapkan, yang jelas di saat itu juga saya memaksakan diri untuk melupakan agenda saya di Tokyo saat itu untuk jalan bareng Jarvis. Yang jelas saya saat itu senang sekali. Saya merangkul pundaknya, yang ternyata tidak lebih tinggi dari saya. Bahkan di mimpi saya menyadari ini.

Saya juga menahan diri untuk tidak mengajak swafoto dulu. Saya tahu sebagian selebriti lebih suka berinteraksi dengan penggemar yang menganggap mereka manusia.

Tapi Jarvis, saat itu, berbeda. Benar dugaan saya: dia mabuk berat.

Saya berusaha untuk mengajaknya bicara, dengan harapan ia tetap fokus dan saya mendapatkan pengalaman yang maksimal. Saya bertanya dalam bahasa Inggris, “apa yang membuat Anda tertarik mendatangi Indonesia; mendatangi negara saya?”

Nah lho. Jadi Tokyo ini ada di mana?

Saya tidak ingat Jarvis menjawab apa. Bahwa dia menjawab atau tidak saja saya tidak tahu. Tapi pembicaraan berlanjut, dan saya sadar saya banyak bertanya. Jarvis sepertinya menyadari juga, dan bilang bahwa bahasa Inggris saya terlalu cepat diucapkan. Tidak ada yang akan mengerti.

Saya berusaha memeperlambat bicara saya, dan ia masih berkomentar seperti tadi. Akhirnya saya panas. “Lah cara elu ngomong juga nggak banyak yang ngerti!” bentak saya, seakan membeberkan fakta, dalam bahasa Inggris.

Tiba-tiba saya mendapat telpon dari istri saya. Dia sedang makan steak (atau shabu-shabu?) di sebuah rumah makan besar. Saya tidak ingat nama lengkapnya, namun sepertinya mengandung kata metal. Istri saya bilang, saya sudah ditunggu. Ah, mungkin itulah agenda asli saya di sini.

Tapi di tengah pembicaraan, Jarvis melakukan sesuatu yang luar biasa.

Ia menyeberang jalan dengan cepat. Mendekati sebuah gerobak ramen, dan mengambil—mencuri—tempura di atas ramen yang sudah jadi (yang sebenarnya lebih terlihat seperti makanan contoh). Saya, masih sedang sibuk di telepon, langsung setengah berteriak. Saya lupa apa yang saya teriakkan, sih.

Saya memburu ke arah gerobak ramen. Saya tarik Jarvis menjauhi gerobak itu. Saya langsung berkata pada pedagangnya bahwa saya akan ganti.

“Lima belas ribu,” kata pedagang ramen pada saya, dengan tampang kesal sekaligus ketakutan. Saya merogoh kocek. Wajah saya pucat. Dompet saya tidak ada. Padahal saya ingat ada lima puluh ribuan di situ.

Jarvis masih asyik makan tempura, sepertinya.

Saya mengecek jaket yang tadi saya lepas. Alhamdulillah ada dompetnya. Saya ambil lima puluh ribu, lalu saya berkan pada si pedagang. Ia pun menyerahkan kembalian.

Saya menunggu. Saya menunggu, lalu bilang, “Oh iya, gorengannya itu diganti ya. Saya kira saya dapat lagi.”

Bodoh nggak ketulungan.

Saya dan Jarvis lalu melanjutkan perjalanan. Saya mengajak Jarvis makan di restoran bernama metal itu, dan ia terlihat sangat antusias. Mungkin karena ia musisi. Entahlah.

Tapi saya memberi syarat padanya: ia harus bisa menjaga perilakunya. Ia harus menjadi orang yang, dan ini kutipan langsung dari diri sendiri, “capable of self regulation.”

Sekarang orang yang melihat kami akan melihat kami seperti bocah dan pengasuhnya. Lalu Jarvis membuka celananya (untungnya masih ada celana lagi di dalam). Astaga. Saya marahi. Ia pakai lagi itu celana.

Lalu entah bagaimana, adegan pindah dan kami sedang dalam posisi habis mandi. Hanya mengenakan handuk, kami menyusuri rumah makan metal dengan tangga. Sekarang, dari dalam, rumah makan ini terlihat seperti rumah nenek saya.

Ketika menghampiri sebuah pintu, Jarvis, yang sudah sober setelah mandi, bertanya, “Yakin ini ruangannya?”

“Iya lah, pintunya kamar nenek gua juga begitu.”

Iklan

Tulis komentar..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s