Kemeja Jimi

Hari ini Jimi mulai bekerja di kantornya yang baru.

“Jim, selamet yeeee!!!!! Jangan lupa ntar tanggal 1 traktir2 guaaa!!!”

Begitu bunyi pesan singkat dari Andi, 25 tahun, pengangguran merangkap sahabat karib Jimi selama kuliah. Jimi agak tersinggung juga, karena yang dia tahu, cuma buruh pabrik di daerah pinggiran yang gajian setiap tanggal 1. Lagipula siapa sih yang masih kirim SMS jaman sekarang?

Kantor baru Jimi tidak lebih besar dari kantor lamanya.

“Ah, siapa pula yang peduli ukuran kantor,” gumam Jimi. Kenyataan bahwa hal pertama yang ia lakukan adalah membandingkan ukuran fisik kantornya seperti tidak lagi disadari. Kasihan.

“BERISIK LU!!! IDUP IDUP GUA GAUSAH BANYAK BACOTTTTT!!!”

Jimi terkaget. Di depannya ada seorang bapak-bapak sedang berbicara sendiri. Ah, nampaknya ia marah-marah ke orang malang di seberang sana, karena bapak itu mengenakan earphone. Earphone sebelah yang bentuknya seperti daun telinga itu. Yang kabelnya begitu pendek sehingga handphone harus tetap didekatkan ke kepala. Hilang makna.

Jimi melewati bapak tadi. Ia berjalan menuju ke ruang HR.

Sesampainya di depan pintu ruang tujuannya, Jimi terdiam. Ia memperhatikan sesuatu yang amat menarik hatinya melalui celah pintu. Bukan celah juga sebenarnya, karena ada dua lubang kaca vertikal di pintu tersebut.

Ada sebentuk kemeja berwarna merah tua tergantung di hanger, di sebuah lemari di dalam ruang HR. Singkat cerita kemeja itulah yang membuat Jimi mengakhiri petualangannya mencari kerja selama dua bulan.

Bersambung ke bagian dua.

Iklan

Tulis komentar..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s