Soal LPDP

Kemarin, 10 Maret 2015, adalah hari pengumuman hasil seleksi beasiswa LPDP gelombang kedua. Singkatnya, saya tidak lolos seleksi di periode ini. Tapi saya tidak berpikir untuk menyerah karena menyerah adalah perbuatan pelaku calon narapidana (kalau belum menyerahkan diri kan namanya buron. Lah, jadi?!). Di kesempatan ini, saya ingin melakukan refleksi. Yah, siapa tahu berguna buat teman-teman yang berencana melamar LPDP juga.

Oh ya, perlu diingat bahwa sekarang LPDP membolehkan peserta yang keberhasilannya tertunda untuk langsung melamar lagi (tidak perlu menunggu sampai enam bulan). Syaratnya, lamaran kedua itu adalah kesempatan terakhir yang bisa diberikan LPDP. Sepertinya sih karena makin ke sini, beasiswa LPDP jadi semakin laris.

Seleksi Administrasi

Lanjut. Oke, refleksi. Selama proses pelamaran beasiswa, saya sudah menjalani dua tahap seleksi, yaitu seleksi administrasi dan seleksi wawancara. Seleksi administrasi bisa saya lewati dengan nyaris sempurna. Mengapa nyaris? Karena ternyata masih ada dokumen yang salah saat saya menyerahkannya ke panitia. Dokumen itu adalah surat pernyataan (yang ada materainya itu lho). Saya seharusnya menulis University of Warwick di kolom universitas, bukan Universitas Indonesia. Yah, mana saya tahu kalau kolom itu harus diisi dengan universitas tujuan. Tapi karena kesalahannya dianggap kecil (dan ternyata yang melakukannya juga lumayan banyak), saya bisa menggantinya.

Seleksi Wawancara: LGD

Selesai masalah administrasi, di hari yang sama, saya dijadwalkan untuk mengikuti subtahap seleksi wawancara: leaderless group discussion atau biasa disebut sebagai LGD. Pengalaman saya kurang baik sih di tahap ini, karena sepanjang observasi saya, hampir semua kelompok LGD sudah kumpul dan mengobrol. Artinya, mereka sudah cukup saling kenal. Saya? Saya baru bertemu separuh anggota kelompok kira-kira 15 menit sebelum masuk ruangan. Salah saya juga sih tidak aktif mencari (tapi sebelumnya saya sudah menghubungi salah satu teman kelompok melalui Facebook, namun tidak berbalas).

Tidak lekatnya hubungan antaranggota kelompok seakan ‘menghukum’ kami di ruang diskusi. Kami jadi tidak bisa menentukan mau seperti apa diskusi berjalan. Semua orang seakan berdiskusi dengan orang yang sama sekali asing (memang sih), padahal di situ kami seharusnya berperan sebagai kumpulan orang yang lebih saling kenal.

Jadi, sampailah kita pada EVALUASI PERTAMA: sebisa mungkin, agresiflah menemukan teman sekelompok diskusi. Bangun hubungan dengan saling berkenalan dan berdiskusi. Atau sekedar mengobrol. Ya pokoknya kenalan lah.

Topik yang dibahas adalah soal pendidikan. Dari pengalaman saya membaca blog orang lain, sepertinya hanya ada dua topik yang dilemparkan oleh LPDP, yaitu pendidikan dan Minerba. Sepertinya, lho. Dan sepertinya artikel yang dibahas dicatut dari Kompas. Tapi, lagi-lagi, sepertinya lho, karena saya tidak begitu ingat. Di sinilah kesalahan saya yang berikutnya: tidak membaca soal pendidikan atau Minerba, dan tidak baca koran Kompas. Saya lebih banyak membaca berita lewat portal berita di Internet, dan hanya mengikuti perkembangan berita yang sedang tren (waktu itu soal Budi Gunawan).

EVALUASI KEDUA: baca koran Kompas (atau koran lain yang populer dan relatif terpercaya). Ya, itu saja, karena belum tentu topik yang keluar adalah pendidikan atau Minerba. Tapi tidak ada salahnya juga memberikan porsi lebih pada topik itu.

Di dalam ruangan, kami diminta untuk duduk melingkari meja (persegi), membentuk huruf ‘U’ yang ujungnya tidak melengkung, dengan bagian yang terbuka menghadap ke arah barat. Posisi duduk ditentukan dengan panggilan. Maksudnya, nama yang dipanggil pertama diminta duduk di kursi pertama (di ujung kanan huruf ‘U’), begitu seterusnya hingga nama terakhir yang duduk di ujung kiri ‘U’.

Saya sendiri kebagian duduk di kursi ketiga dari awal. Kami mendapat paket diskusi berupa artikel dan kertas kosong. Oh ya, bawa pulpen sendiri.

Setelah diminta membaca artikel selama lima menit, kami dipersilahkan untuk berdiskusi. Oh ya, ada dua orang LPDP yang memonitor jalannya diskusi. Bagi orang seperti saya, berada dalam pengawasan yang live dan konstan seperti ini membuat saya cemas (bakat maling sepertinya). Maaf. Oke, jadi ternyata, anggota kelompok yang duduk di kursi nomor satu memutuskan cara berjalannya diskusi dengan cukup brilian: semua mendapat giliran berbicara satu-persatu, dimulai dari dia. Brilian.

Ada dua alasan. Brilian karena cara ini memunculkan keadilan bagi setiap anggota; semua dapat kesempatan bicara. Brilian, karena itu artinya saya dapat giliran bicara ketiga. Ingat kecemasan yang saya alami tadi? Oh, efeknya sungguh luar biasa karena saya tidak bisa fokus membaca artikel. Sekali lagi, brilian.

Dalam diskusi ini, kami diminta untuk memberikan solusi atas sebuah masalah di dunia pendidikan pada menteri pendidikan, dan boleh menentukan akan bentuk kelompoknya: apakah heterogen (terdiri dari beberapa latar belakang pekerjaan) atau homogen (satu latar belakang, misalnya aktivis). Kelompok kami memutuskan untuk hetero. Saya memilih menjadi ilmuwan.

Diskusi dimulai, dan anggota pertama dan kedua sudah menyampaikan pendapat awal mereka. Tibalah giliran saya. Mati. Mati karena apa yang mau saya katakan sudah diembat oleh mereka berdua. Sungguh sistem yang brilian! (Tapi saya tidak menaruh dendam atau apa lho, sama si anggota pertama, hehe). Namun saya berpikir cepat. Sayangnya, pikira cepat saya menuntun saya pada perilaku ngeles. Saya pun meminta anggota sebelah saya, si nomor empat, untuk berbicara duluan. Lagaknya sih seakan seperti menjadi perangkum, padahal sebenarnya saya sedang sibuk mikir.

Singkat cerita, saya mati kutu. Saya berbicara sekitar tiga kali di forum itu, dan tidak semuanya benar-benar berisi. Tapi meskipun kelompok saya kurang kohesif, saya melihat adanya upaya mereka, yang sepertinya sadar akan kematikutuan saya, untuk memasukkan solusi saya sebagai salah satu solusi kelompok. Terima kasih, teman-teman! :)

EVALUASI KETIGA: fokus pada saat membaca artikel. Gunakan kertas kosong yang disediakan untuk membuat mindmap atau analisis-analisis tentang artikel tersebut. Pikirkan pendapat dan solusi sekaligus di sesi ini, karena itulah yang nanti akan dibicarakan di forum. Gunakan waktu lima menit ini sebaik mungkin! Oh ya, kalau ada sisa tempat, jangan memakainya untuk membuat komik. Meskipun komiknya bagus, saya kira sisa tempat itu lebih baik digunakan untuk mencatat omongan teman-teman sekelompok. Lumayan kan, dapat nilai tambah karena bisa jadi notulis. Tapi tentu saja peran ini hanya bisa dicapai jika kalian tidak panik seperti saya.

Seleksi Wawancara: ..Wawancara

Besoknya, saya menjalani bagian kedua seleksi wawancara, yaitu wawancara. Kenapa sih namanya seleksi wawancara, kalau isinya bukan hanya seleksi wawancara? Mungkin ini karena sebenarnya LGD bukanlah fitur yang ada sejak beasiswa LPDP dibuka tahun 2013 lalu. Saat itu, seleksi wawancara hanyalah berisi sesi wawancara. Barangkali.

Di hari wawancara, saya menyempatkan diri untuk mencetak lebih dari 30 lembar kertas di warnet. Kertas-kertas itu adalah data penunjang yang nanti akan saya gunakan saat berbicara. Bicara dengan data tentu akan membuat saya terlihat menguasai apa yang saya sampaikan, dan tidak terkesan mengada-ada.

Setelah tertunda hampir setengah jam, akhirnya saya masuk ke ruang wawancara. Saya mencoba santai dan menghampiri meja wawancara dengan percaya diri. Saya cukup kaget juga ketika ternyata salah satu pewawancara saya adalah dosen saya di UI. Sepertinya beliau berperan sebagai psikolog, karena selain beliau adalah psikolog, pewawancara yang lain lebih terlihat seperti ilmuwan. Bapak yang duduk di depan saya sudah agak tua dan selalu tersenyum, dan bapak yang di sebelah kanannya lebih muda. Dosen saya sendiri adalah seorang wanita.

Saya diminta memperkenalkan diri oleh bapak yang di tengah. Bapak ini adalah pewawancara yang paling banyak berbicara. Setelah memperkenalkan diri, saya diminta menjelaskan cita-cita saya dalam bahasa Inggris. Sepertinya saya kaget hingga akhirnya gugup, dan tidak bisa benar-benar menceritakan ambisi saya dengan lancar. Si bapak terlihat bingung. Mati.

EVALUASI KEEMPAT: Siapkan semua jawaban dalam bahasa Inggris.

Setelah memperkenalkan diri, saya juga ditanya tentang alasan ikut beasiswa LPDP. Jujur saya kurang siap dengan pertanyaan ini, meskipun sudah punya jawabannya. Jadi entah mengapa saya menjawab bahwa saya ikut LPDP karena 1) pembiayaan penuh, dan 2) karena LPDP sesuai dengan visi saya memajukan Indonesia. Saat ditanya seperti apa visi saya, saya terbata-bata.

EVALUASI KELIMA: Siapkan jawaban untuk pertanyaan tentang alasan. Juga versi bahasa Inggrisnya. Kan siapa tahu.

Saya tidak benar-benar ingat pertanyaannya secara rinci, tapi yang jelas, si bapak tengah banyak menggali tentang cita-cita saya. Beliau bertanya, misalnya, tentang di mana saya akan mengaplikasikan ilmu saya sekembalinya dari Inggris nanti. Dosen saya, sang terduga psikolog, bertanya tentang keluarga saya, tentang pengalaman organisasi, dan siapa ahli behavioral economics yang saya ‘anut’, dalam artian dibaca bukunya.

Nah, mengapa saya tidak berani menyimpulkan bahwa dosen saya berperan sebagai psikolog? Jawabannya adalah karena si bapak yang di sebelah kiri, yang menurut saya paling diam, bertanya pertanyaan-pertanyaan seperti (bukan kutipan langsung ya):

1) “Menurut kamu, gelar formal itu apa sih? [Maksud saya,] kamu kan orangnya tidak formal-formal banget, begitu. Apa makna gelar formal buat kamu? Bukannya kamu bisa belajar ilmu itu di mana saja?”
2) “Kalau kamu menjadi reviewer LPDP, kira-kira orang seperti kamu ini lolos, nggak?”

Buat saya sih, pertanyaannya seperti psikolog, hehehe. Ya selain itu, bapak ini juga bertanya, “Kalau kamu tidak kuliah di Inggris, kira-kira di mana?” Saya kira, ini maksudnya meminta saya memilih kampus lain yang lebih wah dari Warwick. Eh ternyata di ujungnya, beliau bilang, “Bukan, maksud saya, apakah di Indonesia tidak ada?” Halah.

Secara umum, saya sebenarnya puas dengan sesi wawancara ini, karena entah mengapa saya percaya bahwa saya cukup percaya diri. Ya ada bolongnya sih, tapi saya tetap menilai sesi wawancara dengan lebih positif dibanding sesi LGD. Beberapa pertanyaan saya jawab dengan keren seperti pertanyaan nomor satu dari si bapak pendiam: “Ya, saya adalah orang yang percaya bahwa ilmu bisa dipelajari di mana saja. Tujuan saya berkuliah bukan hanya untuk ilmu, tapi juga interaksi dengan ahli-ahli di bidang itu”. Ya kira-kira begitulah.

Sudah sih, itu saja evaluasinya. Secara umum, saya akui saya kurang persiapan, baik untuk LGD maupun wawancara.

Lalu, sekarang saya mau apa? Tentu saja, saya akan melamar sekali lagi. Mimpi saya belum dan tidak akan mati. Tapi saya butuh langkah pertama, dan itu adalah berbenah. Saya akan memperbaiki banyak sekali hal, termasuk esai Sukses Terbesar Dalam Hidupku dan Peranku Bagi Indonesia. Saya juga akan merancang jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul, dan menyiapkan versi bahasa Inggrisnya. Banyak hal. Banyak sekali.

Saya ingin siap, karena kesempatan itu hanya datang untuk mereka yang siap. Semoga kita semua jadi orang yang siap sukses!

Iklan

Satu pemikiran pada “Soal LPDP

  1. […] Oya, simak juga tulisan saya untuk mempersiapkan lamaran LPDP kedua. […]

Tulis komentar..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s